Cara Warga Kedungsari Kota Magelang Olah Sampah Organik Jadi Cuan Lewat Program Qoryah Thayyibah

Cara Warga Kedungsari Kota Magelang Olah Sampah Organik Jadi Cuan Lewat Program Qoryah Thayyibah

Tim pengabdian Unimma mendemonstrasikan cara melubangi tanah menggunakan alat biopori disaksikan oleh warga dan anggota Aisyiyah Ranting Kedungsari.-DENISA PUTRI-MAGELANG EKSPRES

MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.ID – Ancaman penumpukan sampah di TPA Kota Magelang di Banyuurip menuntut solusi nyata dari tingkat rumah tangga. Merespons hal tersebut, Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) berkolaborasi dengan Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Kedungsari melatih warga mengolah sampah organik menjadi kompos menggunakan metode biopori.

Program pengabdian masyarakat bertajuk Qoryah Thayyibah ini tidak hanya menyasar warga yang memiliki lahan luas, tetapi juga memberikan solusi bagi lahan sempit menggunakan media galon bekas.

BACA JUGA:Dua Prodi Kefarmasian Fikes Unimma Raih Akreditasi Unggul

Ketua Tim Pengabdian, Marlina Kurnia mengatakan, penanganan sampah paling efektif harus dimulai dari sumbernya agar memiliki nilai ekonomi dan ramah lingkungan.

Warga dilatih membuat biopori sebagai solusi pengolahan sampah organik dari rumah sekaligus upaya mengurangi penumpukan di TPA Kota Magelang di Banyuurip, Tegalrejo.

Pasalnya, TPA tersebut sudah dinyatakan overload sejak 2017, namun sampai sekarang masih dipaksa bisa menampung 70 ton sampah rata-rata per harinya.

BACA JUGA:Mahasiswa UNIMMA Edukasi Literasi Digital di Magelang Guna Cegah Hoaks dan Ujaran Kebencian Dini

"Biopori mampu mengurai sampah organik menjadi kompos atau pupuk yang memiliki daya jual dan ramah lingkungan,” ujarnya saat kegiatan, belum lama ini.

Ia menjelaskan, biopori dibuat menggunakan pipa pralon/PVC yang ditanam ke dalam tanah sedalam sekitar satu meter dengan diameter 10–15 cm. Selain itu lubang biopori juga membantu penyerapan air ke dalam tanah.

Bagi warga yang tidak memiliki lahan, warga bisa membuatnya dengan memanfaatkan galon bekas. 

BACA JUGA:Digaji Rp400 Ribu per Bulan, Guru Madrasah Swasta di Kabupaten Magelang Sambat di Depan Menag

Caranya sampah organik cukup dicampur dengan EM4 dan molase. Sehingga proses penguraian berjalan cepat dan tidak menimbulkan bau.

Dalam pelatihan tersebut, belasan warga tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga praktik langsung pembuatan biopori. 

Mereka juga dibekali peralatan untuk mempraktekkan di rumah masing-masing 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: magelang ekspres

Berita Terkait