Umbul Dungo Purworejo: Doa dan Ruwatan Kades, Sambut Ramadan

Umbul Dungo Purworejo: Doa dan Ruwatan Kades, Sambut Ramadan

Doa bersama sekaligus ruwatan dan pagelaran wayang kulit digelar oleh Paguyuban Kepala Desa se-Kabupaten Purworejo (Polosoro) di Alun-alun Purworejo pada Minggu malam (15/2).-Eko Sutopo-Magelang Ekspres

PURWOREJO, MAGELANGEKSPRES.ID – Paguyuban Kepala Desa se-Kabupaten Purworejo (Polosoro) menggelar Umbul Dungo (doa bersama), ruwatan, dan pementasan wayang kulit di Alun-alun Purworejo, Minggu (15/2) malam. 

Kegiatan budaya dan religi ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-195 Kabupaten Purworejo, Hari Desa, serta persiapan menyambut bulan suci Ramadan.

Acara dihadiri ratusan kepala desa dari 16 kecamatan, perangkat desa, dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD). 

Turut hadir Bupati Purworejo Yuli Hastuti, Wakil Bupati Dion Agasi Setiabudi, jajaran Forkopimda, kepala perangkat daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya.

BACA JUGA:KLB Keracunan Massal di Purworejo, 79 Warga Trirejo Tumbang Usai Santap Berkat Hajatan

Ketua Panitia yang juga Kepala Desa Suren, Fauzi, mengatakan kegiatan ini menjadi ikhtiar spiritual sekaligus refleksi bagi para penyelenggara pemerintahan desa. 

Doa bersama dan ruwatan digelar sebagai bentuk keprihatinan atas wafatnya belasan kepala desa di Purworejo dalam beberapa waktu terakhir, termasuk yang masih berusia muda.

“Melalui Umbul Dungo dan ruwatan ini, kami berdoa agar para kepala desa yang telah wafat mendapat ampunan. Sementara yang masih mengemban amanah diberi kesehatan, keselamatan, dan kekuatan untuk memimpin desa masing-masing dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Ruwatan dipimpin dalang Ki Sugati Susilo dari Saegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan lakon Murwakala. 

BACA JUGA:Wartawan Magelang Ekspres Juara 1 Lomba Jurnalistik HPN PWI Jateng 2026

Ruwatan dilaksanakan dalam bentuk papar tunggal yang secara filosofis dimaknai sebagai upaya menghilangkan sengkala atau energi negatif, khususnya bagi para pemimpin.

“Wayangan ini mengisahkan seorang dewa yang menghilangkan mara bahaya. Harapannya, para kepala desa dapat memimpin dengan amanah, berintegritas, dan mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik,” jelasnya.

Kegiatan mengusung tema “Menguatkan Spirit Keimanan dalam Mewujudkan Pemerintahan Desa yang Amanah, Berintegritas, dan Berkeadilan”.

Selain doa bersama, pagelaran wayang kulit juga menjadi sarana pelestarian budaya adiluhung Jawa yang sarat nilai moral dan kepemimpinan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: