SPPG Giyanti Temanggung Ditutup, Makanan Berjamur Picu Evaluasi MBG

SPPG Giyanti Temanggung Ditutup, Makanan Berjamur Picu Evaluasi MBG

SPPG Giyanti Temanggung berhenti beroperasi setelah ditemukan makanan tidak layak konsumsi beberapa pekan lalu. -Setyo Wuwuh-Magelang Ekspres

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.ID - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Giyanti Kecamatan Temanggung akhirnya ditutup sementara, setelah menyalurkan makanan tidak layak pada 23 Februari 2026 lalu. 

Sebagaimana diwartakan koran ini sebelumnya, temuan makanan berjamur dan berulat, yang sempat beredar ke sekolah penerima manfaat sempat viral di media sosial.

Sehingga membuat penerima manfaat protes. 

Informasi yang digali dari Sekretaris Daerah (Sekda) Temanggung Tri Winarno, Satuan Tugas (Satgas) pelaksanaan makan bergizi gratis (MBG) Kabupaten Temanggung, memutuskan menghentikan operasional selama satu minggu. 

BACA JUGA:Komisi IX DPR Temukan Kejanggalan Anggaran Program Makan Bergizi Gratis

Diketahui, SPPG Giyanti ini sudah dua kali ini memberikan makanan yang tidak layak konsumsi pad penerima manfaat

"Penghentian operasional SPPG Giyanti dimulai 2 Maret 2026," katanya. 

Selama masa itu lanjut Tri, akan dilakukan evaluasi menyeluruh, evaluasi tersebut akan menelusuri letak persoalan menu MBG bermasalah. 

Apakah terjadi kelalaian dalam penerapan standar operasional prosedur (SOP), kesalahan dalam tata kelola, atau faktor lain dalam proses produksi makanan. 

Selain itu, Satgas MBG melakukan uji laboratorium terhadap sejumlah sampel makanan di laboratorium di Jogjakarta.

BACA JUGA:Rencana Gedung KDMP Banyuurip Temanggung Ditolak, Terkendala Cagar Budaya

Proses uji lab dijadwalkan berlangsung selama 10 hari sejak 25 Februari 2026. Empat jenis sampel yang diuji antara lain roti, kurma, susu, dan telur. 

"Kami minta hasil lab tidak hanya menyebutkan jenis kontaminasi, tetapi juga dampaknya apa. Ini penting untuk bahan evaluasi, jelasnya. 

Satgas menekankan tiga komitmen utama kepada seluruh kepala SPPG di Temanggung. Berupa perbaikan tata kelola, peningkatan keamanan pangan, serta transparansi kandungan gizi dan harga menu. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: