UMKM Tahu Tempe Wonosobo Terjepit Harga Kedelai Impor
TAHU TEMPE. Pengrajin tahu tempe Desa Bumiroso tengah melakukan proses produksi. - AGUS SUPRIYADI - MAGELANG EKSPRES--
WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.ID - Gejolak pasar global mulai memukul industri kecil di daerah. Pemerintah Kabupaten Wonosobo mengakui lonjakan harga kedelai, minyak goreng, dan plastik saat ini berada di luar kendali pemerintah daerah karena sangat bergantung pada situasi internasional.
Kabag Perekonomian Setda Wonosobo, Lintang Esti Pramana, mengungkapkan bahwa kenaikan paling signifikan terjadi pada kedelai impor.
Kedelai melonjak dari Rp7.000 menjadi Rp11.000 per kilogram. Plastik mengalami fluktuasi tajam karena bahan baku yang didominasi komoditas impor dan minyak goreng pasokan dari produsen pusat mulai menipis di pasaran.
"Pasca Lebaran ini dampaknya lebih ke situasi global. Kedelai itu impor, jadi kita memang kesulitan dalam pengendalian pasokannya," ujarnya kemarin.
BACA JUGA:Bocah 6 Tahun di Wonosobo yang Dihantam Mobil Box Kondisinya Masih Kritis
BACA JUGA:Enam Kompleks Perumahan di Purworejo Dapat Bantuan Perbaikan Jalan PSU Rp1,6 Miliar pada 2026
Merespons kondisi yang kian mencekik pelaku usaha kecil, Pemkab Wonosobo melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) mulai mengambil langkah antisipasi.
Pemantauan lapangan mendalami penyebab berkurangnya pasokan minyak goreng dari pabrik. Operasi pasar menyiapkan distribusi komoditas murah jika harga terus merangkak naik.
Koordinasi bulog memastikan ketersediaan stok bahan pokok tetap terjaga di level aman.
"Jika tren kenaikan terus berlanjut, intervensi pasar pasti segera kami lakukan," tegas Lintang.
Dampak paling nyata dirasakan oleh sentra perajin tahu di Desa Bumiroso, Kecamatan Watumalang. Sebanyak 86 produsen tahu dan tempe di wilayah tersebut kini berada dalam posisi terjepit.
BACA JUGA:Anak Pedagang Pindang Asal Purbalingga Jadi Wisudawan Terbaik Untidar
Muhaimin seorang perangkat desa yang juga produsen tahu, mengaku terpaksa menaikkan harga jual demi menyambung napas produksi, meski risikonya adalah penurunan jumlah pembeli.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: magelang ekspres