Audit Alutsista TNI

Selasa 16-06-2020,04:05 WIB
Editor : ME

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA - Dua insiden kecelakaan pesawat milik TNI terjadi dalam dua pekan belakangan. Lima prajurit meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. Melihat kondisi ini, sudah sebaiknya Kementerian Pertahanan (Kemhan) melakukan audit alat utama sistem senjata (alutsista) milik TNI. Desakan agar alutsista milik TNI diaudit datang dari anggota Komisi I DPR Willy Aditya. Desakan tersebut datang setelah dua insiden kecelakaan pesawat TNI terjadi dalam dua pekan. Pertama kecelakaan Helikopter angkut MI-17 milik TNI AD di Kendal, Jawa Tengah yang mengakibatkan lima prajurit meninggal dunia. Dan pada Senin (15/6) pagi pesawat TNI jenis BAE Hawk 209 jatuh di pemukiman di Kabupaten Kampar, Riau. Dikatakan politisi NasDem itu, audit alutsista TNI sangat penting dilakukan. Sebab hal itu sebagai bagian dari penguatan sistem pertahanan nasional. \"Hawk 100/200 ini kan sebenarnya di desain sebagai pesawat latihan tempur ringan. Kecelakaan pertama percobaan Hawk 200 tahun 1986 terjadi karena black out dan disorientasi. Memang sudah banyak pengembangannya hingga tahun 2002. Sebagai pengguna perlu memeriksa semua alutsista yang dipakai,\" jelasnya dalam keterangan tertulisnya, Senin (15/6). Menurutnya, dalam kerangka pembangunan sistem pertahanan yang komprehensif, Kemhan sangat perlu mengkaji kembali setiap peralatan sistem pertahanan yang digunakan Indonesia. Persenjataan yang dimiliki Indonesia perlu disesuaikan seiring perkembangan dan ancaman terkini. \"Audit sistem pertahanan ini mendesak dilakukan karena tentu perkembangan ancaman pertahanan terus berubah. Peralatan dan perlengkapan yang dipakai TNI itu harus menyesuaikan dengan situasi kekinian, termasuk pesawat yang dipakai. Kejadian berturut-turut ini harus mendapat perhatian serius,\" tuturnya. Dijelaskannya, anggaran pertahanan dalam APBN beberapa tahun belakangan selalu menjadi salah satu yang tertinggi. Meskipun anggaran ini berbagi dengan banyak lembaga. Karenanya, audit sistem pertahanan dapat menjadi dasar bagi DPR untuk menyetujui pertambahan anggaran dalam penyediaan alutsista. \"Saya rasa DPR akan menyetujui penambahan anggaran alutsista jika audit komprehensif dilakukan termasuk hasil investigasi terhadap sejumlah kecelakaan alutsista. Jadi anggaran yang dikeluarkan itu akan punya dasar yang kuat,\" ucapnya. Senada diungkapkan anggota Komisi I lainnya, Bobby Adhityo Rizaldi. Dia meminta Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto melakukan inspeksi menyeluruh terhadap alutsista tempur. “Inspeksi ulang kesiapan alutsista senjata yang diawaki seperti pesawat, heli, kapal selam dan lain-lain yang sudah berumur lebih 5-10 tahun. Armada Hawk ini sudah hampir berumur 25 tahun, termasuk alutsista yang akan diremajakan,” katanya. Selain itu, insiden ini juga harus diinvestigasi secara mendalam, agar mengetahui secara jelas penyebab peristiwa tersebut. “Dalam investigasi harus dapat diidentifikasi apakah ada faktor human error, atau ada tahapan perawatan yang dilewati, kombinasi keduanya atau murni kecelakaan,” ucap politisi golkar ini. Selain melakukan investigasi, ditambahkan Ketua Komisi I DPR Meutya Hafidz seluruh korban yang terdampak dalam insiden tersebut diberi bantuan. \"Karena pesawat jatuh di wilayah permukiman, perlu kepada masyarakat yang menjadi korban disiapkan ganti rugi oleh TNI,\" imbuhnya. Dia juga mengingatkan agar seluruh korban yang terdampak dalam insiden tersebut diberi bantuan. “Saya juga akan minta seluruh korban dalam kecelakaan ini disantuni dan dirawat atas tanggungan biaya negara. Baik itu pilotnya ataupun masyarakat yang terkena,” bebernya. Sementara itu, Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Fadjar Prasetyo menegaskan pesawat Hawk 0209 TT yang jatuh di pemukiman warga di Kecamatan Siak Hulu, Kampar, Riau dalam kondisi laik terbang. \"Pesawat laik terbang karena telah melalui proses pengecekan. Beberapa hari sebelumnya juga melaksanakan misi penerbangan dan berlangsung normal,\" katanya dalam keterangan pers di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru. Dikatakannya, pesawat tersebut buatan tahun 1990 dan hingga saat ini telah menghabiskan 3.100 jam terbang. Meski telah berusia 30 tahun, pesawat itu masih dianggap layak mengingat jam terbang dinilai normal. \"Pesawat ini buatan tahun 1990 dan sampai saat ini usia airframe-nya sudah 3.100 jam. Ini sebenarnya usia 3.100 jam tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Normal dari sisi usia penerbangan,\" ujarnya. Karenanya, TNI AU akan segera melakukan investigasi mendalam terkait insiden tersebut. diprediksi investigasi untuk mengetahui penyebab jatuhnya pesawat akan memakan waktu dua pekan. Selama investigasi, aktivitas penerbangan Hawk 100/200 yang memperkuat Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru akan dihentikan sementara. \"Kami akan melaksanakan investigasi. Dan ini membutuhkan waktu yang nantinya diharap dapat menemukan jawaban penyebab kecelakaan ini,\" ujarnya. \"Setelah kejadian ini, saya perintahkan untuk stop flying (terbang) dulu. Saya tidak nyatakan ini grounded, kita stop dulu pengoperasiannya untuk melaksanakan proses investigasi,\" lanjutnya. Lanud Roesmin Nurjadin memiliki dua Skadron tempur. Selain Skadron Udara 12, juga ada Skadron Udara 16. Selain itu, Fadjar juga mengatakan pesawat yang jatuh tersebut baru selesai melaksanakan misi latihan tempur di Siabu. Ada tiga pesawat yang terbang ke areal latihan militer Siabu, Kampar pada Senin pagi sekitar pukul 07.00 WIB. Satu jam kemudian, pesawat itu menyelesaikan misi dan kembali ke Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin. \"Ketiga pesawat selesai melaksanakan latihan penembakan di Siabu akan kembali untuk mendarat. Pada saat kembali, pesawat berurutan pesawat 1, 2 dan 3. Yang kecelakaan itu posisi terakhir, ke 3,\" ungkapnya. Diungkapkannya, sesaat sebelum jatuh, Lettu Pnb Aprianto Ismail, pilot tunggal pesawat itu sempat melaporkan terjadi keganjilan pada bagian mesin. Kemudian, lampu indikator peringatan juga menyala yang mengindikasikan adanya kerusakan bagian mesin. \"Pilot juga sempat merasakan adanya suara ledakan pada bagian mesin hingga mesin pesawat buatan Inggris itu benar-benar kehilangan daya hingga terhempas dan jatuh menimpa rumah warga,\" katanya. Lokasi jatuhnya pesawat, lanjut jenderal bintang empat itu, berada sekitar dua kilometer dari ujung landasan. Pesawat juga diketahui berada 500 kaki ketika kehilangan tenaga dan jatuh menimpa rumah warga. Beruntung, rumah warga yang hancur akibat tertimpa badan burung besi itu dalam keadaan kosong. Fadjar juga memastikan kondisi pilot dalam keadaan baik dan tidak ada korban jiwa dalam insiden itu. \"Penerbang melaporkan terjadi keanehan di mesin. Ada suara aneh diikuti lampu peringatan menyala ketika terjadi sesuatu tidak benar di mesin. Mesin kemudian kehilangan tenaga atau lost power. Namun pada saat itu komunikasi masih normal dan pilot memutuskan untuk eject dengan kursi pelontar,\" tuturnya. Fadjar juga menyampaikan bahwa pihaknya akan bertanggung jawab dan mengganti kerugian yang ditimbulkan akibat insiden tersebut. \"Saya ingin menyampaikan permintaan maaf kepada pemilik rumah. TNI AU dalam hal ini Lanud Roesmin Nurjadin akan bertanggung jawab,\" katanya. Dia mengatakan dalam insiden ini ada dua rumah yang rusak akibat dihantam badan pesawat. Satu rumah mengalami kerusakan parah sementara satu rumah lainnya rusak pada bagian halaman dan menghancurkan pagar. Selain itu, terdapat satu rumah lainnya yang rusak akibat tertimpa kursi pelontar pilot. Terlihat atap rumah itu bolong hingga bagian plafon. Kepala Penerangan Lanud Roesmin Nurjadin Letkol Mhd Zukri menambahkan jika pihaknya akan segera berkoordinasi dengan pemilik rumah untuk mengganti kerugian. \"Jelas kita akan ganti kerugian,\" ujarnya. Rumah yang mengalami kerusakan parah itu akibat dihantam langsung badan pesawat Hawk. Hendri, salah seorang warga mengatakan kebetulan rumah itu telah lama ditinggal pemiliknya. \"Sudah enam bulan lebih rumah itu kosong. Pemiliknya pegawai BUMN yang tugas di luar kota Pekanbaru. Rumah itu baru direhab, tapi sekarang rusak,\" kata warga setempat itu. Rumah yang rusak berat tersebut adalah milik Abun Abdullah, pegawai PT PLN (Persero) yang berdinas di Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu. Dia merasa bersyukur bahwa dirinya diberi keselamatan atas insiden tersebut. “Saya bayangin kalau saya ada di tempat, ya Allah mungkin sudah almarhum,” katanya. Dikatakannya, rumah tersebut ditempati sejak 2011, dan merupakan rumah satu-satunya miliknya. Karena dirinya berdinas di Rengat, maka dirinya bersama istri dan tiga anaknya hanya pulang ke rumah tersebut pada hari Sabtu-Minggu atau saat libur. “Dan kebetulan minggu ini kami tidak berangkat. Alhamdulillah, itulah yang saya syukuri itu. Saya sekeluarga lagi tidak di situ,” katanya. Abun mendapat kabar tentang insiden itu dari tetangganya, saat dirinya sedang berada di kantor. Tetangganya menelepon sambil menangis saat mengabari nasib rumah Abun. “Yang kena inforimasinya ada 3-4 rumah, yang telak di rumah kita. Tapi Alhamdulillah keluarga selamat semua karena tidak di tempat,” katanya. Ia mengatakan belum bisa memastikan berapa kerugiannya akibat insiden pesawat tersebut. Abun menjelaskan rumah tersebut awalnya tipe 36, dan ia rehab perlahan-lahan hingga berdiri dua lantai, sebelum akhirnya luluh lantah tertimpa pesawat tempur. Ia mengatakan kini masih dalam perjalanan dari Rengat ke Pekanbaru untuk melihat kondisi rumahnya. Ia mengaku agak shok atas kejadian itu, terutama isterinya yang hingga kini masih terguncang. “Terutama isteri terguncang juga karena istrilah yang begitu sayang rumah itu,” katanya. Menurutnya, belum jelas apakah TNI akan mengganti kerugian yang menimpanya dan tetangga-tetangganya. “Belum ada konfirmasi dari pihak TNI AU. Pagi tadi anggota Koramil Siak Hulu menghubungi untuk menanyakan apakah betul saya pemiliknya,” kata Abun. Rumah lainnya yang mengalami kerusakan berada di samping rumah Abun. Namun, kerusakan hanya terjadi pada bagian pagar rumah. Kemudian satu rumah lainnya yang rusak berada sekitar 500 meter dari lokasi pesawat jatuh. Rumah itu rusak akibat tertimpa kursi pelontar. Tampak rumah itu mengalami kerusakan pada bagian atap. Ketiga rumah rusak itu kini dipasangi garis polisi dan dijaga aparat TNI. Hingga kini, bangkai pesawat masih berada di lokasi kejadian. Pesawat itu urung dievakuasi karena TNI AU masih akan melakukan investigasi terkait insiden tersebut. Truk crane yang sempat berada di lokasi kejadian juga telah ditarik kembali.(gw/fin) Grafis Deretan Pesawat dan Helikopter TNI yang Jatuh 15 Juni 2020 Pesawat TNI AU jenis BAE Hawk 209 dengan nomor registrasi TT-0209 di pemukiman warga di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, dikabarkan selamat. Pilot pesawat naas tersebut, Lettu Pnb Apriyanto Ismail selamat setelah melontarkan diri menggunakan menggunakan ejection seat. 6 Juni 2020 Helikopter M-17 dengan nomor HA 5141 itu tengah melaksanakan misi latihan terbang di Pusat Pendidikan Penerbang AD, Semarang, Jawa Tengah, sebagai bagian dari program Pendidikan Calon Perwira Penerbang 1. Lima orang meninggal dunia, yaitu Lettu Wisnu Tia Aruni, Kapten I Kadek Suardiasa, Kapten Fredy Vebryanto Nugroho, Kapten Yulius Hendro, dan Lettu Cpn Vira Yudha. Juni 2019 Helikopter MI-17 dengan nomor HA-5138 milik TNI AD mengalami lost contact dalam misi penerbangan dari Bandara Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang ke Bandara Sentani Jayapura. Helikopter tersbeut mengangkut 12 penumpang, terdiri atas 7 kru dan 5 personel Satgas Yonif 725/Woroagi. Pada Februari 2020, puing helikopter itu ditemukan di kawasan pegunungan Papua. November 2016 Helikopter Bell 412 milik TNI AD jatuh di pegunungan Malinau, Kalimantan Utara. Insiden itu menyebabkan tiga dari lima awak helikopter meninggal dunia. Juli 2016 Helikopter jenis Bell 205 A-1 milik TNI AD dengan nomor HA-5073 jatuh menimpa dua rumah warga di Dusun Kowang, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Tiga prajurit TNI meninggal yakni Kapten Cpn Titus Benediktus Sinaga, Letnan Dua Cpn Angga Juang, serta Serda Yogi Riski Sirait. Selain itu, seorang warga, Fransisca Nila Agustin juga meninggal dalam insiden tersebut. Maret 2016 helikopter Bell 412 EP dengan nomor HA 5171 milik TNI AD jatuh di Kelurahan Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir, Poso, Sulawesi Tengah. Kecelakaan pesawat ini menyebabkan 13 orang meninggal dunia Juni 2015 Pesawat Hercules C 130 milik TNI AU jatuh di Jalan Jamin Ginting, kawasan Prumnas Simalingkar, Medan, Sumatera Utara. Sedikitnya 126 orang tewas akibat peristiwa ini. Maret 2015 The Jupiters Aerobatic Team (JAT) TNI AU mengalami kecelakaan di Langkawi, Malaysia. Kecelakaan terjadi saat tim TNI AU latihan untuk mengikuti Langkawi International Maritime and Aerospace Exhibition (LIMA). Pilot selamat dengan menggunakan kursi pelontar. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. sumber diolah

Tags :
Kategori :

Terkait