BACA JUGA:Pilkada Purworejo 2024 Direncanakan Telan Anggaran Rp 49 Miliar
Hal senada disampaikan oleh Kepala Desa Jati Kecamatan Bener, Rahmat Saptono. Menurutnya, sejauh ini program SLBM di wilayahnya tidak terjadi masalah. Pemerintah desa selalu berkoordinasi dengan KSM selaku pengelolaan program SLBM.
“Dengan pendamping dan dinas kami juga koordinasi,” ujarnya didampingi Ketua KSM, Slamet.
Pihaknya juga menyatakan bahwa program SLBM sangat dibutuhkan masyarakat.
“Kita merasa sangat diuntungkan karena sesuai arahan dari gubernur kan desa wajib untuk ODF. Dan untuk Desa Jati sendiri kurang lebih masih kurang 30 persen. Jadi kita memang sangat membutuhkan. Setelah ini mungkin kita kurang sekitar 15 persen, kisaran 100-an,” ungkapnya.
Perwakilan KSM lain asal Desa Brunorejo Kecamatan Bruno, Bambang Sugiarto, mengaku memilih membeli produk dari Bioaga atas dasar kehendak dan keputusan KSM.
Terkait adanya isu-isu yang beredar, pihaknya mengaku tidak terjadi gejolak di masyarakat.
“Ga ada (pengondisian). Adem ayem itu,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR, Suranto, mengungkapkan bahwa Rakor yang digelar merupakan pertemuan rutin untuk mengetahui progres pelaksanaan program SLBM, selain juga telah dilakukan monitoring ke lapangan.
Berdasarkan paparan masing-masing desa diketahui bahwa proses perencanaan telah terlaksana dengan baik sesuai Juklak dan Juknis.
“Jadi kami cek satu-satu tadi KSM dan tim teknis, semuanya sudah sesuai ketentuan yang dilaksanakan. Alhamdulillah ini masyarakat sudah terlaksana dan sebagian besar juga sudah mengambil uang muka untuk pelaksanaan pekerjaan,” ungkapnya. (top)