Menanamkan Growth Mindset di SMP HAWS

Senin 27-07-2026,06:30 WIB

SALAH satu pelajaran paling berkesan yang saya peroleh selama berinteraksi di Turku International School dan Turun normaalikoulu adalah cara guru-guru di Finlandia memandang kegagalan dalam proses belajar.

Ketika seorang siswa mengalami kesulitan menyelesaikan soal matematika, melakukan kesalahan dalam eksperimen sains, atau belum memahami sebuah konsep, guru tidak terburu-buru memberi label bahwa siswa tersebut kurang mampu atau tidak berbakat.

Sebaliknya, mereka memberikan dorongan positif dengan mengatakan, "Bagus, otakmu sedang bekerja keras untuk bertumbuh." Kalimat sederhana ini mencerminkan filosofi pendidikan yang sangat kuat.

Pendekatan tersebut berakar pada konsep Growth Mindset atau pola pikir bertumbuh, yaitu keyakinan bahwa kecerdasan, keterampilan, dan kemampuan bukanlah sesuatu yang bersifat tetap sejak lahir.

Semua itu dapat terus berkembang melalui usaha yang konsisten, strategi belajar yang tepat, kemauan menerima umpan balik, serta keberanian untuk mencoba kembali setelah mengalami kegagalan. Dalam pandangan ini, setiap tantangan merupakan kesempatan untuk belajar, bukan ancaman yang harus dihindari.

Di Indonesia, khususnya pada usia remaja SMP, tidak sedikit siswa yang mudah kehilangan kepercayaan diri ketika menghadapi kesulitan. Budaya takut salah, rasa khawatir terhadap penilaian orang lain, dan anggapan bahwa kemampuan ditentukan oleh bakat sering membuat mereka enggan mencoba hal-hal baru. Kalimat seperti, "Saya memang tidak berbakat di pelajaran ini," akhirnya menjadi alasan untuk berhenti berusaha sebelum memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk berkembang.

Di SMP HAWS Magelang, kami berkomitmen membangun budaya belajar yang berbeda. Dengan menggabungkan filosofi pendidikan Finlandia, pendekatan analitis Cambridge, serta nilai-nilai keislaman yang menumbuhkan semangat ikhtiar dan pantang menyerah, kami mengajak siswa menambahkan satu kata sederhana tetapi penuh makna dalam setiap tantangan yang mereka hadapi, yaitu "belum."

Ketika seorang siswa berkata, "Saya tidak bisa Bahasa Inggris," kami membimbingnya untuk mengubah cara berpikir menjadi, "Saya belum bisa Bahasa Inggris, tetapi saya sedang belajar dan terus berkembang." Perubahan kecil dalam cara memandang diri sendiri ini mampu menumbuhkan optimisme, keberanian, dan motivasi untuk terus berusaha.

Karena itu, kami berupaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, suportif, dan menghargai proses. Kesalahan dipandang sebagai bagian alami dari pembelajaran, bukan sebagai tanda kelemahan. Dengan menanamkan growth mindset sejak dini, kami berharap lulusan SMP HAWS tumbuh menjadi generasi yang tangguh, percaya diri, adaptif menghadapi perubahan zaman, serta meyakini bahwa potensi yang Allah anugerahkan akan terus berkembang melalui usaha, doa, dan ketekunan.

 

Yuli Nur Diyanto, S.Pd, M.A.

Kepala Satuan Pendidikan HAWS Junior High School

Alumni Universitas Turku, Finlandia

 

 

Kategori :