Luthfi Minta Peserta PKN Tingkat II Bawa Terobosan untuk Ubah Birokrasi di Daerah
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi membuka Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XXVIII di Kantor BPSDMD Provinsi Jawa Tengah, Senin (3/8).-IST -MAGELANG EKSPRES
SEMARANG, MAGELANGEKSPRES.ID - Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi meminta peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XXVIII tidak hanya menjadikan pelatihan sebagai syarat administratif atau ajang memperoleh sertifikat.
Sepulang dari pelatihan, para peserta diharapkan mampu melahirkan terobosan yang dapat memperbaiki birokrasi dan meningkatkan kualitas pelayanan publik di instansi maupun daerah masing-masing.
Ia menegaskan, tujuan utama pelatihan kepemimpinan adalah mencetak pemimpin yang mampu membawa perubahan nyata melalui gagasan dan inovasi yang dapat diterapkan.
"Harapannya setelah PKN dia pulang ke provinsi atau daerahnya bisa merubah birokrasinya atau mempunyai terobosan ide-ide kreatif sehingga mereka lebih maju," kata Luthfi saat membuka PKN Tingkat II Angkatan XXVIII di Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Jawa Tengah, Senin (3/8).
BACA JUGA:Siswa SMP Mutual Kota Magelang Sukses Borong 5 Medali Kejuaraan Renang Salatiga Cup 2026
Berdasarkan data BPSDMD Provinsi Jawa Tengah, PKN Tingkat II Angkatan XXVIII diikuti 51 peserta yang berasal dari kementerian, lembaga, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan pemerintah kota dari berbagai daerah di Indonesia.
Peserta tersebut terdiri atas 11 orang dari kementerian dan lembaga yakni Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Transmigrasi, serta Badan Intelijen Negara (BIN).
Selebihnya berasal dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Riau, Kota Ambon, Kota Manado, Kabupaten Tambrauw, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Rembang, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Jepara.
BACA JUGA:Wakil Indonesia, Belasan Siswa SMP Mutual Magelang Unjuk Gigi di Scout Camp Thailand
Menurut Luthfi, keberagaman asal peserta menjadi modal penting untuk memperkuat jejaring kerja sama sekaligus saling bertukar pengalaman dalam menyelesaikan persoalan pemerintahan.
Ia menilai kepemimpinan bukan sekadar menguasai teori, melainkan kemampuan mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, serta memastikan kebijakan dapat dijalankan secara efektif.
"Banyak teori kepemimpinan di tempat kita, tetapi bagaimana kita bisa mendengar, melihat, dan bekerja. Jadi yang paling efektif," ujarnya.
BACA JUGA:KEK Batang Tarik Investasi Australia Rp 5,7 Triliun, Serap 1.000 Tenaga Kerja di Jateng
Di tengah tantangan fiskal dan dinamika geopolitik global, Luthfi mengatakan setiap pemimpin dituntut mampu menghadirkan inovasi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: magelang ekspres