Doa Bersama Tolak Tambang Pasir Progo, Warga Sambeng Magelang Tuntut Penutupan

Doa Bersama Tolak Tambang Pasir Progo, Warga Sambeng Magelang Tuntut Penutupan

Warga Desa Sambeng, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang menggelar doa dan pengajian bersama di area penambangan pasir Sungai Progo guna menolak aktivitas eksploitasi alam yang dinilai mengancam lingkungan, Sabtu (1/8/2026).-HENI AGUSNINGTYAS-MAGELANG EKSPRES

MUNGKID, MAGELANGEKSPRES.ID - Ratusan warga Desa Sambeng, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, menggelar aksi doa bersama dan pengajian di lokasi penambangan pasir Sungai Progo, Sabtu (1/8/2026).

Aksi damai tersebut merupakan bentuk penolakan keras terhadap aktivitas tambang yang dinilai merusak lingkungan dan sumber mata pencaharian warga desa.

Massa memanjatkan doa tepat di jalan masuk area tambang yang dipenuhi bebatuan.

BACA JUGA:Tenggat Waktu Habis Juni, Nasib Kades Sambeng Magelang Segera Diputuskan Pemkab

Dua unit ekskavator yang terparkir di lokasi turut dipasangi spanduk penolakan oleh warga yang tergabung dalam Paguyuban Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan dan Tanah Air (Gema Pelita).

Humas Gema Pelita, Khoirul Hamzah mengatakan, penambangan pasir di Desa Sambeng sudah berlangsung lebih dari dua tahun tanpa adanya sosialisasi.

Selama in, warga terus mempertanyakan legalitas tambang ke berbagai instansi namun hasilnya selalu nihil.

"Masyarakat tidak pernah dilibatkan sama sekali. Mereka tiba-tiba menambang. Makanya, kami melakukan aksi langsung ini," kata Hamzah.

BACA JUGA:Kades Kabur Sejak Setahun, Desa Sambeng Borobudur Bakal Gelar Pilkades 2026

Ia merinci sejumlah dampak kerusakan masif yang kini dirasakan warga.

Mulai dari rusaknya jalan desa akibat lalu lintas truk, tebing sungai tergerus, lahan warga terkikis, hingga bangunan madrasah yang makin terancam longsor akibat abrasi.

Selain itu, keberlangsungan Mata Air Mudal atau Ngudal yang menjadi tumpuan warga Desa Sambeng dan Candirejo perlahan menyusut.

Aliran arus Sungai Progo yang menjadi lebih deras juga mematikan potensi wisata air, seperti aktivitas kayak dan Getek Balong.

"Kalau (tambang) terus berlanjut, kami khawatir tuk (mata air) Mudal akan mati," ucap Ketua Gema Pelita, Umar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: magelang ekspres

Berita Terkait