Harga Kedelai Naik, Pabrik Tahu di Tegalrejo Magelang Bertahan Tanpa PHK

Harga Kedelai Naik, Pabrik Tahu di Tegalrejo Magelang Bertahan Tanpa PHK

Sejumlah pekerja memotong dan mengolah tahu di salah satu pabrik tahu di Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang.-TORA AKBAR-MAGELANG EKSPRES

TEGALREJO, MAGELANGEKSPRES.ID - Pukul delapan pagi, aktivitas di sebuah pabrik tahu di Tegalrejo, Kabupaten Magelang, sudah berada di titik paling sibuk.

Mesin penggilingan terus berdengung dan uap mengepul dari kuali besar. Sementara tangan-tangan pekerja tak berhenti mengolah kedelai menjadi tahu.

Di pabrik itu, kenaikan harga bahan baku bukan sekadar angka. Bagi Aminah Iis Arafah (31), pemilik usaha tahu warisan orang tuanya, setiap kenaikan harga berarti tantangan baru.

BACA JUGA:Berkah Kamis Wage, Kedatangan Jamaah Dongkrak Dagangan Warga Mejing Candimulyo Magelang

Ia harus memastikan usaha tetap berjalan dan delapan karyawannya tetap memiliki pekerjaan.

Sejak meneruskan usaha keluarga pada 2019, Iis harus menghadapi kenaikan berbagai kebutuhan produksi. Harga kedelai yang sebelumnya Rp9.000 kini mencapai Rp11.500 per kilogram.

Kayu bakar naik dari Rp12.000 menjadi Rp14.000 per karung. Sementara harga minyak sempat menyentuh Rp325.000 per jerigen.

BACA JUGA:Tolak Tambang Pasir PT Anaba, Warga Sambeng Borobudur Kibarkan 355 Bendera Setengah Tiang

Di tengah kondisi itu, Iis memilih tidak menaikkan harga jual kepada pedagang eceran langganannya.

Sebagai gantinya, ia sedikit menyiasati ukuran tahu agar tidak membebankan seluruh kenaikan biaya produksi kepada konsumen.

"Kalau harga dinaikkan, takutnya pelanggan keberatan. Jadi kami menyiasati ukuran tahu. Yang penting delapan karyawan tetap bekerja," kata Iis, Minggu, 27 September 2026.

BACA JUGA:Ahmad Luthfi Raih Penghargaan Penggagas Sekolah Kemitraan, Program Buka 5.004 Kursi Pendidikan di Jateng

Ia mengaku program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut membantu menjaga perputaran usahanya. Pesanan dari satu dapur MBG sedikitnya mencapai 1.900 tahu.

"MBG sangat membantu pelaku usaha seperti kami. Barangnya bisa langsung keluar. Ketika pasar tradisional sedang sepi, pesanan dari MBG bisa menutup kekurangan tersebut," ujarnya.

Di sisi lain, bagi Lili Hidayati (38), bertahan di pabrik tahu berarti berdamai dengan panas, beratnya pekerjaan, dan percikan minyak.

BACA JUGA:Dorong Kolaborasi Global, Polbangtan Kementan Gelar Konferensi Internasional

Selama tiga tahun bekerja, Lili terbiasa berdiri sekitar delapan jam dalam sistem shift. Ia harus mengangkat adonan tahu basah yang berat, memotongnya, kemudian menggorengnya di atas kuali panas.

"Sudah tiga tahun di sini. Kalau percikan minyak sama angkat-angkat sudah jadi makanan sehari-hari. Alhamdulillah penghasilan juga bisa memenuhi kebutuhan di rumah. Tetap disyukuri," katanya sembari memotong tahu.

Di antara suara mesin, kepulan asap, dan panas kuali, Iis dan Lili memiliki harapan yang sama: harga bahan pokok lebih stabil.

BACA JUGA:Borobudur100 di Magelang Targetkan Donasi Rp768 Juta untuk Penyandang Cerebral Palsy

Bagi mereka, kestabilan harga bukan hanya soal menjaga keuntungan. Kestabilan itu juga menentukan nasib pekerjaan dan dapur keluarga yang terus menyala.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: magelang ekspres

Berita Terkait