Perajin Muntilan Rekam Sejarah Magelang Lewat Motif Batik Lokal
Seorang perajin tengah menyelesaikan tahapan produksi kain batik cap dengan motif bernuansa lokal di Dusun Dukuhan, Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jumat (2/10/2026).-TORA AKBAR-MAGELANG EKSPRES
MUNTILAN, MAGELANGEKSPRES.ID - Perajin batik asal Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Hayatini Siswiningrum (52), berinovasi mengubah narasi sejarah dan bentang alam daerahnya menjadi motif kain bernilai seni.
Pada momen peringatan Hari Batik Nasional tahun ini, perempuan yang akrab disapa Titin itu terus konsisten merekam identitas lokal, mulai dari relief candi hingga fenomena lahar dingin Gunung Merapi.
Motif khas seperti siluet stupa, keanggunan daun bodhi, dan lanskap wisata Ketep Pass kerap dipesan oleh para pelanggannya.
BACA JUGA:Trafo Meledak, Gudang Meubel di Tempuran Magelang Terbakar
Bagi dia, selembar batik bukan sekadar bentangan kain hiasan, melainkan medium yang sangat efektif untuk menceritakan dinamika sejarah dan kearifan lokal.
"Kita ambil apa saja yang ada di sekitar Magelang, kita batikkan," kata Titin saat ditemui di kediamannya di Dusun Dukuhan, Desa Gunungpring, Jumat (2/10/2026).
Proses produksi karya bernuansa kedaerahan itu turut memberdayakan komunitas sekitar.
BACA JUGA:Guru Korban Penganiayaan di Kajoran Magelang Dikenal Baik, Pernah Beri Bekal Siswa
Tahap perancangan desain hingga pencantingan dikerjakan langsung oleh para perajin di rumah masing-masing.
Sistem pengerjaan tersebut sengaja diterapkan agar para pekerja bisa berkreasi dengan nyaman sesuai dengan ruang kreativitas mereka.
Perjalanan Titin mendalami kriya canting tulis bermula pada 2008 silam. Sebelumnya, dia hanya fokus merintis usaha busana muslim dan layanan butik jahit sejak 2003.
BACA JUGA:Anak 15 Tahun Serang Guru di Kajoran, Bapas Magelang Kaji Kondisi Keluarga Pelaku
Lantaran produsen di kota-kota besar enggan melayani pesanan motif kustom dengan jumlah terbatas, ia akhirnya mengambil langkah berani untuk mempelajari teknik pewarnaan alami dan memproduksi batiknya sendiri.
Kini, warisan cerita lokal yang dituangkan ke atas kain itu diharapkan mampu menjaga identitas Magelang agar tetap hidup.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: magelang ekspres

