Tren Cuci Darah Incar Usia Muda, Poltekkes Semarang Latih Warga Magelang Cegah Sakit Ginjal

Tren Cuci Darah Incar Usia Muda, Poltekkes Semarang Latih Warga Magelang Cegah Sakit Ginjal

Tim pengabdi yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Prodi Keperawatan Magelang Poltekkes Kemenkes Semarang tengah melatih warga usia produktif terkait deteksi dini dan pencegahan penyakit ginjal.-IST-MAGELANG EKSPRES

MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.ID - Guna menekan lonjakan penderita penyakit ginjal pada kelompok usia produktif, Tim Pengabdian Dosen Program Studi (Prodi) Keperawatan Magelang Poltekkes Kemenkes Semarang menggalakkan gerakan deteksi dini dan gaya hidup sehat.

Sebanyak 30 warga lintas profesi di Kota Magelang mendapatkan pelatihan skrining mandiri, Jumat (3/7/2025).

Langkah promotif dan preventif tersebut dipusatkan di ruang kelas kampus setempat. Tujuannya, membentengi organ vital masyarakat dari ancaman kebiasaan harian yang merusak.

BACA JUGA:Poltekkes Semarang Terapkan Logoterapi untuk Lansia Risiko Ginjal dan Hipertensi di Magelang

Ketua Tim Dosen Pengabdi Poltekkes Kemenkes Semarang, Erna Erawati SKep Ns MKep mengatakan bahwa kelompok usia produktif kini menjadi sasaran prioritas.

Sebab, data medis terbaru menunjukkan adanya pergeseran tajam tren penyakit ginjal ke usia muda.

"Upaya pencegahan melalui skrining diabetes dan gaya hidup sehat sangat penting dipahami warga, terutama bagi ibu yang memegang peran utama dalam keluarga," katanya, Rabu (8/7/2026).

Edukasi itu, menurut Erna, mencakup pengurangan asupan minuman berkadar gula tinggi maupun produk kemasan.

BACA JUGA:Bukan Cuma Urus Kesehatan, Posyandu di Magelang Kini Ditugasi Tangani Kemiskinan dan Sanitasi

Masyarakat juga didorong untuk selalu kritis memperhatikan label tingkat nutrisi (nutrilevel) pada setiap makanan.

Selain manajemen asupan gizi, kecukupan cairan tubuh tak luput dari sorotan tim pengabdi. Pasalnya air putih, kata dia, memegang peranan sentral untuk membantu ginjal menyaring dan membuang racun melalui urine.

Ia juga mengimbau warga rutin memantau warna urine sebagai indikator utama kecukupan hidrasi, terlebih saat musim panas yang rawan memicu dehidrasi.

"Lewat pendekatan ini sebenarnya sangat mudah untuk diamati secara mandiri," ungkapnya.

BACA JUGA:Ahmad Luthfi Gandeng 4.620 Mahasiswa KKN Undip Garap Program Kecamatan Berdaya di Jateng

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait