Krisis Lahan, Kapasitas TPU Giriloyo Kota Magelang Maksimal Tersisa 12 Tahun Lagi

Krisis Lahan, Kapasitas TPU Giriloyo Kota Magelang Maksimal Tersisa 12 Tahun Lagi

Pemandangan salah satu area di TPU Giriloyo, Kota Magelang, menerapkan konsep makam berumput dan nisan tanpa bangunan tambahan -DENISA PUTRI-MAGELANG EKSPRES

MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.ID - Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang dihadapkan pada ancaman krisis lahan pemakaman. Pasalnya, ketersediaan lahan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Giriloyo, yang menjadi pusat pemakaman, diprediksi hanya mampu bertahan maksimal hingga 12 tahun ke depan.

Kepala Bidang Pengelolaan Pertamanan dan Pemakaman Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang, Teguh Ariyanto mengungkapkan, sisa lahan yang berpotensi digunakan untuk liang lahad saat ini hanya tersisa sekitar 2,5 hingga 3 hektar.

BACA JUGA:Tradisi Peziarah Jalan Kaki dari Lereng Sumbing ke Makam Mbah Kiai Mangli

Keterbatasan lahan ini harus berkejaran dengan tingginya tingkat mortalitas atau rasio pemakaman warga setiap tahunnya.

"Rata-rata terdapat 600 hingga 700 pemakaman warga setiap tahun. Dengan sisa lahan yang ada, ketersediaannya diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan hingga 10 sampai 12 tahun ke depan," ungkap Teguh, Kamis (1/10/2026).

Pria yang akrab disapa Ari itu membeberkan, total luas TPU Giriloyo sejatinya mencapai 15 hektar.

BACA JUGA:Pasar Rejowinangun Magelang Sepi, Akademisi Untidar Usul Konsep Lebih Atraktif

Dari luasan itu, sekitar 13 hektar dialokasikan untuk area makam, sementara sisanya untuk akses jalan dan fasilitas pendukung.

Namun, sisa lahan 3 hektar tersebut tidak sepenuhnya bisa langsung digunakan.

"Sejumlah area kosong berada di bagian ujung TPU dan belum memiliki akses jalan yang memadai," imbuhnya.

BACA JUGA:Tiap Tahun Kota Magelang Sudah Seperti Kota di Jepang Berkat Tabebuya yang Mirip Sakura

Upaya membuka akses jalan baru menuju sisa lahan tersebut juga bukan perkara mudah.

Menurut dia, pelebaran atau pembukaan jalan berpotensi menabrak atau bersinggungan dengan makam-makam yang sudah ada sebelumnya.

Karenanya, pendekatan budaya dan penghormatan terhadap keluarga mendiang tetap diperlukan kendati menjadi persoalan yang sensitif.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: magelang ekspres

Berita Terkait