Akal Budi sebagai Fondasi Bangsa: Dari Pelajaran Jepang ke Ikhtiar Indonesia

Akal Budi sebagai Fondasi Bangsa: Dari Pelajaran Jepang ke Ikhtiar Indonesia

Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra -IST-MAGELANG EKSPRES

MAGELANGEKSPRES.ID - Ketika Hiroshima runtuh menjadi hamparan puing akibat ledakan bom atom, dunia seakan menyaksikan ambruknya nalar kemanusiaan.

Namun di tengah kehancuran yang nyaris total itu, Kaisar Hirohito justru mengajukan pertanyaan yang melampaui logika perang.

Ia tidak meminta laporan tentang sisa kekuatan militer, tidak pula menghitung cadangan logistik.

BACA JUGA:Pekerja Jawa Tengah Bakal Tempati Posisi Manajer di Perusahaan-perusahaan Jepang

Ia bertanya tentang guru—berapa banyak yang masih hidup.

Pertanyaan ini menandai sebuah kesadaran mendalam: masa depan bangsa tidak ditentukan oleh apa yang tersisa dari peperangan, melainkan oleh siapa yang mampu menumbuhkan kembali akal dan karakter manusia.

Keputusan Jepang pascaperang adalah keputusan yang sunyi namun menentukan.

Mereka tidak membangun kebangkitan melalui slogan, melainkan melalui kerja sistematis di ruang-ruang pendidikan.

BACA JUGA:SMKN 2 Magelang Dorong Siswa Kelas 12 Siap Bersaing Global, Hadirkan LPK Jerman dan Jepang

Sekolah dijadikan pusat pemulihan peradaban, guru ditempatkan sebagai figur terhormat, dan proses belajar diarahkan untuk membentuk disiplin, tanggung jawab, serta ketekunan.

Hasil dari pilihan ini bukan sekadar kemajuan ekonomi, tetapi transformasi kualitas manusia.

Jepang tumbuh sebagai bangsa dengan tingkat literasi tinggi, kemampuan inovasi kuat, dan etos kerja yang menjadi rujukan dunia.

Semua itu berakar dari satu kesadaran awal: membangun manusia adalah prasyarat bagi kebangkitan bangsa.

BACA JUGA:Ahmad Luthfi Dukung Seniman Jateng Tampil di Jepang, Jadi Media Diplomasi dan Promosi Budaya

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: magelang ekspres