Bayer Rilis Insektisida Ganda Camalus, Solusi Petani Pangkas Ongkos Produksi
Perusahaan life science Bayer Indonesia resmi meluncurkan Camalus, di Simalungun, Sumatra Utara, Senin (6/7/2026).-DOK-MAGELANG EKSPRES
SIMALUNGUN, MAGELANGEKSPRES.ID - Ancaman gagal panen dan membengkaknya ongkos perawatan akibat serangan hama ganda pada tanaman hortikultura kini sudah mendapat solusi.
Perusahaan life science global, Bayer, resmi memperkenalkan inovasi insektisida terbaru bernama Camalus di Simalungun, Sumatra Utara, Senin (6/7/2026).
Inovasi insektisida sistemik tersebut dibekali mekanisme kerja ganda (dual mode of action).
Teknologi ini memungkinkan petani membasmi hama pengunyah (chewing) dan penusuk-penghisap (sucking) sekaligus hanya dalam satu kali aplikasi penyemprotan.
Yang terjadi sebelumnya, para petani harus merogoh kantong lebih dalam untuk biaya produksi. Pasalnya, mereka terpaksa membeli dan meracik dua jenis pestisida berbeda secara manual demi melindungi tanaman dari serangan hama majemuk.
Head of Field Solutions Bayer South East Asia & Pakistan, Kukuh Ambar Waluyo menjelaskan, tantangan budi daya hortikultura saat ini dinilai makin kompleks.
Sebab, berbagai jenis hama perusak seperti ulat, pengorok daun, hingga kutu kebul kerap menyerang area pertanian secara bersamaan.
"Camalus menjawab kebutuhan yang selama ini belum terpenuhi dalam budi daya hortikultura," kata Kukuh.
BACA JUGA:Mahasiswa Untidar Kembangkan Alat Pembasmi Hama Lalat Buah Berbasis IoT di Magelang
Ia menjelaskan, hasil inovasi tersebut telah melalui berbagai serangkaian riset hingga adaptasi matang terhadap kondisi agroekologi di Indonesia. Termasuk juga perhitungan presisi soal tekanan hama spesifik yang rutin dihadapi para petani lokal di lapangan.
Kukuh menuturkan bahwa fungsi ganda pada cairan kimia ini ditopang oleh perpaduan dua bahan aktif. Yakni Tetraniliprole dan Spirotetramat dalam satu formulasi tunggal.
"Cara kerjanya mampu membuat ulat lebih cepat berhenti makan. Alhasil, potensi kerusakan fisik pada daun dan batang tanaman dapat dicegah sejak fase awal pertumbuhan," jelas dia.
Menariknya, inovasi yang memakan waktu riset hingga 10 tahun ini juga telah dilengkapi dengan sistem perekat khusus. Oleh karena itu, durasi pengendalian hama diyakini jauh lebih tahan lama meski lahan diguyur hujan lebat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: