Sekolah Nasional Terintegrasi, Solusi Pemerataan Mutu atau Ancaman Kesenjangan Baru?

Sekolah Nasional Terintegrasi, Solusi Pemerataan Mutu atau Ancaman Kesenjangan Baru?

Muhammad Fikri Al Hakim, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Magelang, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam-IST-MAGELANG EKSPRES

MAGELANGEKSPRES.ID - Pendidikan bermutu merupakan hak setiap warga negara. Namun, kesempatan untuk memperolehnya masih timpang. Anak-anak di kota besar cenderung menikmati fasilitas, tenaga pendidik, dan teknologi yang lebih memadai dibandingkan mereka yang tinggal jauh dari pusat pertumbuhan.

Padahal, Pasal 5 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 menegaskan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan bermutu.

Program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) hadir untuk menjawab persoalan itu. Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2026, pemerintah menargetkan 500 layanan SNT hingga 2029. Sebanyak 37 lokasi disiapkan pada 2026 dan 17 di antaranya ditargetkan mulai melayani murid pada Tahun Ajaran 2026/2027.

BACA JUGA:Cetak Rekor! Pemkot Magelang Sabet Opini WTP ke-10 Kalinya dari BPK

Kebutuhannya nyata. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan baru 263 dari 7.288 kecamatan, atau sekitar 4 persen, yang memiliki SMP dan SMA negeri dengan capaian mutu baik secara bersamaan.

Karena itu, SNT tidak cukup dipahami sebagai proyek pembangunan sekolah baru. Ia harus menjadi pusat pertumbuhan mutu bagi sekolah-sekolah di sekitarnya.

Konsep tersebut menjanjikan. SNT dirancang mengintegrasikan jenjang SMP dan SMA, pengembangan guru, pembelajaran berbasis sains dan teknologi, fasilitas modern, serta pemanfaatan sumber belajar bersama.

Namun, keberhasilannya jangan diukur dari kemegahan gedung atau prestasi murid SNT semata.

BACA JUGA:HAWS Magelang Kembangkan Islamic Studies Modern, Perkuat Pendidikan Global Berbasis Karakter

Di sinilah pengawasan publik diperlukan. Tanpa pola kolaborasi yang kuat, SNT dapat berubah menjadi magnet yang menyedot murid dan guru terbaik.

Sekolah lama yang telah bertahun-tahun melayani masyarakat justru berisiko semakin kehilangan daya hidup.

Fenomena sekolah kekurangan murid dan wacana penggabungan sekolah di sejumlah daerah menunjukkan bahwa pembangunan satuan pendidikan harus berangkat dari peta kebutuhan, persebaran penduduk, dan kapasitas sekolah yang sudah ada.

Karena itu, pengimbasan mutu mesti menjadi ukuran utama. Guru dari sekolah sekitar perlu memperoleh pelatihan dan pendampingan. Laboratorium, teknologi, serta sumber belajar harus dapat dimanfaatkan bersama. Praktik baik tidak boleh berhenti di dalam pagar SNT.

BACA JUGA:Apa Manfaat Kurikulum Cambridge bagi Siswa?

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: magelang ekspres