Lulusan S2 Finlandia Pimpin SMP HAWS Magelang, Terapkan Kurikulum Cambridge dan Metode Belajar Aktif
Yuli Nur Diyanto, Kepala Sekolah Junior High School (SMP) Hafidh Asrom World Schools (HAWS) Magelang.-Istimewa-
YULI NUR DIYANTO datang membawa cara pandang yang berbeda ke dunia pendidikan.
Di usia 31 tahun, lulusan S2 University of Turku, Finlandia, itu dipercaya mejadi Kepala Sekolah Junior High School (SMP) Hafidh Asrom World Schools (HAWS) Magelang.
Pengalaman belajar di negara yang dikenal memiliki salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia itu kini menjadi bekal untvk membangun sekolah internasional yng tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga menbentuk karakter dan kemampuan berpikir siswa.
Bagi Yuli, sekolah masa kini harus meninggalkan pola belajar yang hnya berpusat pada guru.
Menurutnya, siswa perlu didorong aktif bertanya, berdiskusi, hinga menyelesaikan persoalan nyata melalui berbagai proyek.
"Ini kan sekolah internasional, jadi sekolah ini mengadopsi kurikulum yang pertama Cambridge, yang kedua, kami juga akan menerapkan praktik-praktik baik, dari pendidikan di Finlandia, untuk diterapkan di sini," ujarnya.
BACA JUGA:Miss Rusna: Anak Usia Dini Tak Perlu Dipaksa Calistung, Bermain Justru Jadi Kunci Tumbuh Kembang
Ia menyebut salah satu contoh dari segi pembelajaran. Dari segi pembelajaran, tidak hanya soal hafalan, jadi pembelajaran itu yang aktif learning.
Selain itu, tidak hanya guru menjelaskan, terus siswa mendengarkan, tapi di pembelajaran ini juga mempunyai project based learning.
Siswa nanti membuat project -project tertentu, dan itu adalah untuk mengasah pemikiran kritis, untuk mengasah pemecahan masalah, dan sebagainya.
"Jadi, dari segi metode pembelajaran, sekolah ini mengadopsi pembelajaran- pembelajaran dari Finlandia, seperti itu," imbuhnya.
Konsep tesebut diperkuat denggan penerapan keterampilan abad ke-21 atau 4C, yakni Creativity, Collaboration, Communication, dan Critical Thinking.
Di saat yang sama, HAWS juga ingin melahirkan lulusan yang fasih berbahasa Inggris tampa meninggalkan identitas sebagai muslim berkarakter.
"Nah, yang pertama yaitu kita mengacu pada skill untuk abad 21 yang 4C itu yang akan kita terapkan," tegas Yuli.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: