Riset Kesehatan Dasar 2018, 18 Provinsi Tersandera Tingginya Angka Stunting

Riset Kesehatan Dasar 2018, 18 Provinsi Tersandera Tingginya Angka Stunting

MAGELANGEKSPRES.COM,Indonesia menghadapi beban ganda (double burden). Di satu sisi menghadapi masalah gizi kurang (pendek/stunting, dan kurus), di sisi lain dihadapkan pada masalah obesitas atau kegemukan. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan, angka stunting pada usia balita di Indonesia mengalami penurunan, dari 37,2% (Riskesdas 2013) menjadi 30,8% (2018). Namun, sebanyak 18 provinsi masih memiliki angka stunting sebesar 30-40%, bahkan 11,5% tergolong sangat pendek. Delapan belas provinsi itu di antaranya, NTT, NTB, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, Papua, Sulawesi Utara, Riau, Bengkulu, Jateng, Jambi, Sumatera Selatan dan Jogjakarta. Bila dikalikan dengan jumlah balita di Indonesia, maka julahnya tidak bisa dibilang sedikit. Yang kita khawatirkan adalah korelasinya dengan risiko retardasi mental. Meskipun angka stunting menurun, masih belum memenuhi syarat yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu di ambang batas 20 persen. \"Presiden Joko Widodo dalam lima tahun ke depan menargetkan di bawah 16%. Untuk mencapai target tersebut, Kementerian Kesehahatan harus mendorong agar tugas tersebut dilaksanakan dengan hati yang ikhlas dan gembira,\" kata Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto, kemarin (4/11). Menkes Terawan menegaskan agar target tersebut jangan dianggap berat, namun tugas yang mulia yang diberikan kepada kita semua untuk membantu mengentaskan masyarakat Indonesia dari ancaman stunting. \"Saudara-saudara semua kan sudah dibekali ilmu mengenai stunting, saya yakin karena ini program prioritas, jadi tolong diprioritaskan untuk menyukseskan program stunting dengan selalu bersinergi dengan aparat-aparat di daerah,\" kata Terawan. Baca Juga Keluarga Korban Kecewa, Pembunuh Bos Tembakau Temanggung Divonis 20 Tahun, Lebih lanjut, Menkes menekankan bahwa tugas mulia tersebut merupakan kesempatan yang luar biasa sehingga harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan disambut dengan sukacita. \"Saya yakin ini tugas yang luar biasa, tidak semua orang mendapatkan kesempatan ini. Kita syukuri dan saya harapkan tidak menjadi beban, justru suka cita. Justru hal yang menantang, pengalaman baru. Kami senantiasa mendukung apapun yang dibutuhkan,\" kata Terawan. \"Program promotif preventif menjadi bekal di depan, untuk selalu mencegah penyakit serta memberikan edukasi kepada masyarakat terutama kasus-kasus stunting,\" lanjutnya. Bila diartikan, stunting adalah perawakan pendek yang disebabkan oleh kekurangan gizi dalam jangka panjang (kronis). Bisa karena asupan nutrisinya tidak cukup, atau karena kebutuhannya meningkat misalnya karena anak sakit. Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik FKUI/RSCM Damayanti Rusli Sjarif mengatakan, persoalan stunting di Indonesia sudah terjadi sejak 40-50 tahun lalu. Di beberapa daerah, bahkan ada kasus stunting yang mengenai tiga generasi, dari kakek, nenek, bapak, ibu, dan anak. Stunting bukan sekadar persoalan perawakan pendek. Dijelaskan oleh Dr. dr. Damayanti, stunting selalu dimulai dari penurunan berat badan (BB) atau weight faltering akibat asupan nutrisi yang kurang. \"Saat BB mulai turun, anak tidak langsung jadi pendek. Terjadi penurunan fungsi kognitif dulu, baru stunting,\" paparnya. Selain fungsi kognitif terganggu, pembakaran lemak pun terganggu. Sehingga ketika anak diberi makan banyak, mudah terjadi obesitas. ”Bila ditelusuri, orang yang sekarang mengalami penyakit degeneratif mungkin dulunya stunting,” ungkapnya. Otak dan sinaps-sinapsnya berkembang pesat selama 1000 hari pertama kehidupan atau hingga anak berusia 2 tahun. ”Sampai usia dua tahun, anak tidak boleh kekurangan nutrisi sama sekali, karena dampaknya irreversible,” urainya. Ia melanjutkan, proporsi kebutuhan nutrisi anak berbeda dengan dewasa. Akhir-akhir ini banyak digaungkan mengenai piring makan sehat, di mana setengah piring berisi sayur dan buah. ”Itu untuk orang dewasa, bukan untuk anak. Untuk anak, kebutuhannya berbeda,” ujarnya. Damayanti juga mengkritisi tren pemberian puree sayur dan buah, atau tepung-tepung organik berbasis nabati. Menurutnya, makanan dengan sumber tunggal seperti ini tidak mencukupi kebutuhan nutrisi anak. ”Boleh saja memberikan puree buah, sayur, tapi harus ada protein hewani,” tegasnya. Baca Juga Waspadai, Radikalisme Berselimut Agama Susu dan telur meruipakan sumber protein hewani yang paling baik. Diikuti dengan produk susu, unggas, ikan, hati, dan daging. ”Jadi, sumber hewani tidak harus mahal. Anak bisa diberi telur, hati ayam, dan berbagai jenis ikan lokal yang harganya relatif terjangkau,” terangnya. Damayanti mengakui, pihaknyasedang menangani kasus stunting di Pandeglang. Dikembangkan pencegahan dan penanggulangan stunting berporos Posyandu dan RSUD. Aksi cegah stunting berupa deteksi dini dan tatalaksana bila ada weight faltering. ”Dilakukan skrining stunting di Posyandu, lalu dikirim ke Puskesmas. Bila benar stunting, dirujuk ke RSUD untuk ditangani,” jelasnya. (dim/fin/ful)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: