Kemarau Panjang, Tanam Padi di Wilayah Temanggung Mundur
TEMANGGUNG – Musim kemarau yang panjang di tahun ini, dipastikan berdampak pada mundurnya musim tanam pertama Oktober-Maret (Okmar). Di sisi lain dampak dari kemarau panjang ini kuantitas hasil panen raya juga menurun. Kepala Bidang Pertanian, Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Kabupaten Temanggung, Harnani Imthikadari mengatakan, kemarau yang terjadi tahun ini memang sangat panjang. Selain itu kemarau juga terjadi lebih awal dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Sampai sekarang hujan belum merata, hujan baru terjadi di daerah-daerah tertentu saja. Dan kalau kondisinya masih seperti ini petani belum berani mulai tanam,” kata Harnani saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (15/10). Apalagi katanya, bagi petani yang berada di daerah tadah hujan, mereka tidak akan berani menanam padi jika hujan belum turun selama minimal 10 hari berturut-turut. “Yang paling merasakan dampak dari kemarau ini di daerah tadah hujan,” terangnya. Baca Juga Tersangkut Jaring Nelayan, Dua Ikan Raksasa Terdampar di Pesisir Selatan Purworejo Namun bagi petani yang berada di daerah irigasi teknis, mereka tetap berani melakukan penanaman padi, air tetap akan mengalir meskipun volumenya mengalami penurunan. Disebutkan, daerah yang merupakan lahan tadah hujan di Temanggung di antaranya, Kecamatan Kandangan, Kaloran, dan sebagian Kecamatan Gemawang. Sedangkan daerah yang sudah ada irigasi teknis yakni Kecamatan Kedu, Parakan, Bulu, Temanggung dan Kecamatan Tembarak. Menurutnya, berdasarkan perkiraan dari BMKG Semarang seharusnya di awal Oktober ini hujan sudah mulai turun normal. Namun pada kenyataanya hingga saat ini hujan masih terjadi belum merata dan selang waktunya masih belum beraturan. “Sosialisasi dan rekomendasi pengolahan lahan baru disampaikan kalau sudah terjadi hujan sudah normal kembali,” terangnya. Harnani menuturkan, pada bulan Maret-September areal persawahan dari 23 ribuan hektar, 1.900 hektar ditanami tembakau, 2.000 hektar ditanami tanaman lain seperti sayuran, dan 7.000 di antaranya ditanami padi. Sedangkan 4.000 hektar sisanya tidak ditanami karena tidak ada pasokan air. “Tahun ini terdampak kekeringan sangat sedikit, sebagian petani lebih memilih menanam tembakau, jadi dampaknya tidak terasa. Bahkan dengan ditanami tembakau ini mereka mendapatkan penghasilan tambahan,” terangnya. Namun di sisi lain lanjutnya, dampak dari kemarau panjang ini kualitas gabah kering panen (gkp) mengalami peningkatan, meskipun secara kuantitas mengalami penurunan. “Kalau kualitas memang naik, karena musim kemarau seperti ini memang sangat mendukung. Namun untuk kuantitas menurun,” terangnya. Pada musim kemarau seperti ini dalam satu hektar tanaman padi maksimal hanya mampu menghasilkan 5,7 ton GKP, sedangkan pada musim penghujan produksi GKP dalam satu hektar bisa mencapai 6,9 ton.(set)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: