Aziz, Imam Masjid Kodim Wamena Bertekad Kembali ke Papua

Aziz, Imam Masjid Kodim Wamena Bertekad Kembali ke Papua

MAGELANGEKSPRES.COM.Tanggal 23 September pagi, keadaan di Kecamatan Wamena Kabupaten Wamena, Papua masih tenang. Warga masih mengantar anak sekolah seperti biasa. Lalu tiba-tiba tak lama setelah warga kembali dari sekolah, ada kabar anak sekolah akan melakukan demo. ITULAH sepenggal kisah kronologi kerusuhan di Wamena yang dialami Aziz Rifai, seorang guru mengaji sekaligus Imam Kodim Wamena yang sudah mengabdikan ilmu agamanya selama 8 tahun terakhir di Wamena. “Jam setengah 9 itu tiba-tiba  ada asap kebakaran mungkin gedung. Lalu warga mulai panik dan sejak saat itu warga menjemput anak-anaknya. Ternyata sekolahan-sekolahan sudah hancur ada yang dibakar. Dari cerita warga, banyak anak sekolah yang diajak demo atau ikut kerusuhan. Bahkan yang tidak mau jadi sasaran dari mereka. Tapi bisa jadi mereka bukan anak sekolah betulan karena hanya pakai seragam sekolah mengajak ikut demo atau rusuh, beberapa ada yang dianiaya karena tidak mau, bahkan sesama pribumi sana,” ungkap Aziz ketika mengisahkan kejadian di hari pertama itu. Pada sore harinya, Aziz sudah selesai mengepak barang seperti berkas penting yang bisa dibawa. Sementara harta benda lain ditinggalkannya dan dibawanya keluarga kecilnya ke Masjid Agung Wamena. Di sana, Aziz bertemu dengan lima orang lain yang sudah dijemput. Baca Juga Kantin TK di Wonosobo Terbakar, Satu Orang Tewas Terpanggang “Yang pertama diserang justru sekolahan dekat situ, dan kantor bupati. Hingga saat ini (15/10) mungkin perkantoran masih kosong dan pegawai masih libur. Saya berkomunikasi dengan warga pendatang khususnya Wonosobo karena kami adakan mujahadah sebulan sekali sehingga ada grup WA. Sehingga ketika saya sebar info ada kekacauan, sejak awal kerusuhan mereka sudah mulai siap-siap mengungsi,” imbuhnya. Dari informasi yang didapatnya, ada orang Wonosobo yang rumahnya dibakar habis dan sempat terjebak di rumah, namun berhasil selamat. Kebanyakan harta benda warga pendatang Wonosobo juga habis dijarah atau dibakar. Selama tiga pekan, warga pendatang Wonosobo mengungsi di barak Brimob Wamena dan bertahan dari kerusuhan yang terjadi tak jauh dari sana. “Ini hanya tertinggal baju yang menempel di badan, bahkan beberapa harus pakai baju sumbangan yang biasanya untuk bencana itu. Beruntung saya ini masih bawa baju sendiri,” ungkapnya masih dengan wajah kelelahan. Menurut Aziz, warga wonosobo di Wamena ada sekitar 35 orang dan mayoritas jadi pendidik, seperti guru SD, imam, muadzin, dan guru mengaji. Beberapa orang yang pulang bersamanya bahkan ada yang menyaksikan langsung pembakaran dan masih mengalami trauma. Baca Juga Hijaukan Gunung Tidar, Grand Artos Hotel Magelang Bantu 100 Pohon Buah “Bahkan ada yang sempat dikunci di dalam kantin yang dibakar, akhirnya bisa menyelamatkan diri dengan naik ke atap. Setelah tahu kondisi aman dia turun dari atap untuk menyelamatkan diri dan ditolong oleh orang pribumi,” katanya. Mayoritas santrinya yang belajar agama merupakan warga pendatang meskipun tidak sedikit juga anak-anak pribumi. Beberapa juga berasal dari kampung Walesi yang selama ini membantu pasokan konsumsi saat kericuhan berlangsung seperti mengirim sayur, buah, dan bahan makanan. “Alhamdulillah selama mengungsi kami terjamin semua dan harapannya yang masih di sana diberi keselamatan. Semoga cepat reda kondisi di sana dan saya pasti balik lagi. Saya ingin balik lagi. Soalnya bagaimana ya, hidup saya di sana dan itu masalah hati. Saya kasihan mereka yang mengaji harus terputus pelajarannya dan banyak yang menunggu kami di Wamena. Sementara di Wonosobo masih banyak guru mengaji yang ada untuk anak-anak sini,” katanya sedih. Guru mengaji muda asal Jaraksari yang kini dikaruniai tiga anak itu mengaku akan segera pulang ke Wamena ketika kerusuhan mereda. Bahkan Aziz yang masih berharap bisa kembali ke rutinitasnya di wamena seperti dulu. (*)    

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: