Peringati Hari Buruh Migran Sedunia di Wonosobo, Wujudkan Tata Kelola Migrasi Aman
MAGELANGEKSPRES.COM,WONOSOBO – Tema Mewujudkan Tata Kelola Migrasi Aman untuk Perlindungan Pekerja Migran dan Keluarganya menjadi jargon dari Peringatan Hari Buruh Migran Sedunia yang dihelat Social Analysis and Research Institute (SARI) Solo bersama Migrant Care, di Wonoboga Rabu (18/12). Menurut koordinator kegiatan dari Social Analyst Research Institute (SARI) Solo, Tri Hananto, agenda diformat dengan diskusi bersama para elemen yang terkait dengan jejaring Pekerja Migran. Baca juga Gelar Media Gathering, KPU Kota Magelang Minta Wartawan Mengevaluasi Pelaksaan Pemilu 2019 “Peserta diskusi publik ini adalah OPD, kelompok BMI Desbumi Kuripan, Lipursari, Mergosari, Gondang, Rogojati, Sindupaten, Ngadikusuman dan anggota BMW, juga perwakilan desa hingga kader komunitas. Kami mengundang beberapa narasumber dari Disnakerintrans, Upipa, dan juga dibuka Wakil Bupati,” ungkapnya kemarin. Dijelaskan Tri, langkah pemerintah Indonesia melalui pengesahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia masih terhambat dalam pelaksanaannya oleh para aktor kunci dalam mewujudkan pemenuhan dan pelindungan hak-hak pekerja migran, khususnya perempuan. “Dua tahun pascapengesahan Undang-undang, situasi perempuan pekerja migran masih rentan terhadap berbagai pelanggaran HAM. Kerentanan terhadap pelanggaran hak dan kekerasan terhadap mereka masih rentan baik sebelum, selama dan setelah bekerja. Namun angka itu di Wonosobo kami harapkan terus menurun dan belum ada laporan terkait kasus yang berat sepanjang tahun ini,” Baca juga Peserta WTBF Diajak Keliling 4 Desa Wisata, Diikuti 35 Sellers 80 Buyers Membuka diskusi public tersebut, Wabup Agus Subagiyo menyebut bahwa untuk meminimalisir berbagai kasus tersebut butuh disiapkan betul persyaratan maupun skillset pekerja migran sebelum berangkat dan jadi pekerja. Pemerintah juga dinilai harus memiliki respon layanan yang baik termasuk untuk siapkan SDM. “Mulai dengan Latihan sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan di luar san. Butuh prevaluation atau persiapan sebelum berangkat, ongoing sehingga di monitor betul saat bekerja di sana. Jangan sampai terbuai hal-hal yang sifatnya tidak jelas dan waspadai investasi maupun trading yang belum dipaham,” ungkap Wabup. Sementara itu perwakilan Migrant Care, Nessa Kartika menyebut, kini mayoritas permasalahan di Pekerja Migran Wonosobo baik yang akan berangkat maupun sedang bekerja didominasi di bidang administratif dan dokumen. Meskipun masih ada beberapa kasus lain yang terkait dengan tindak kriminal baik tuntutan atau korban, namun jumlahnya semakin menurun. “Sekarang ini masalah rekan-rekan pekerja migran, rata-rata dokumen administrasi atau soal passport. Padahal dengan dokumen yang sah valid semuanya akan lancar. Ada juga layanan terpadu satu atap LTSA PMI yang dilaunching 27 November lalu oleh Disnakerintrans maka kami hadirkan dari dinas, LSM, juga perwakilan dari Imigrasi di peringatan ini,” ungkap eks pekerja migran di Taiwan yang kini menjadi penulis dan wirausahawan itu. (win)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: