Perpustakaan Mata Pena di Wonosobo Jadi Pusat Belajar, Miliki 1.000 Koleksi Buku

Perpustakaan Mata Pena di Wonosobo Jadi Pusat Belajar, Miliki 1.000 Koleksi Buku

MAGELANGEKSPRES.COM,WONOSOBO – Salah satu perpustakaan desa yang konsisten mempertahankan eksistensinya hingga saat ini ialah Perpustakaan Mata Pena di Larangan Kulon Kecamatan Mojotengah. Bahkan di tahun ketiganya, berjuang dengan penambahan koleksi buku. Para ibu dan pelajar yang menjadi pengurus dan anggota masih setia mengikuti berbagai kegiatan, utamanya pada Sabtu sore. Menurut Pengelola Mata Pena, Nur Arofati, perpusdes yang dikelola sejak 2017 itu awalnya menempati posyandu dan pusat kegiatan PKK desa. “Ini awalnya tempat ibu-ibu berkegiatan seperti posyandu dan jadi pojok baca di program PKK. Akhirnya karena diminati dan menjadi tempat yang sering dikunjungi warga, akhirnya dibantu oleh desa dengan dijadikan perpusdes. Kita memang tidak meminta bantuan secara materi apalagi uang, tapi kami bersyukur bisa dibantu ruang dan alat. Tahun 2020 ini harapanya  dapat alokasi untuk penambahan koleksi buku,” ungkapnya belum lama ini. Baca Juga Jalur Pendakian, Cuaca Ekstrim, Gunung Sindoro Keluarkan Asap Kini jumlah koleksinya telah mendekati 1000 buku dan di pertengahan 2019 lalu sudah bertambah dari sedikitnya 800 buku. Mata Pena juga mendapat donasi dari beberapa donator baik dari Wonosobo maupun luar, terutama untuk buku anak hingga buku yang bertema keahlian. Tugas Kepala perpustakaan  juga dibantu beberapa bagian yang awalnya fokus sebagai penggerak PKK desa. “Sejak beberapa tahun ini kami fokus buka setiap sabtu karena mayoritas ada pekerjaan harian tapi di hari lain ada juga belajar bersama, seperti bahasa inggris maupun keahlian lain, bahkan pelatihan untuk para ibu,” kata Nur yang merupakan salah satu pendamping perpustakaan di kawasan Kecamatan Garung. Mata Pena sendiri di level kecamatan juga yang menjadi salah satu perpusdes yang paling aktif bersama dengan perpusdes desa Kebrengan, Mojosari dan diikuti Blederan, Dero Ngisor dan Candirejo. Anggota Matapena mayoritas ialah para ibu-ibu PKK dan anak-anaknya yang kini banyak berkunjung ke perpustakaan baik untuk membaca hingga mengerjakan tugas. “Penggunaan internet untuk anak-anak biasanya diawasi dan yang datang di hari sabtu hingga 40 anak mayoritas usia SD. Meskipun ada juga yang usia SMP maupun SMA dan ikut membantu kegiatan perpustakaan. Seperti belajar di luar ruangan dengan games. Apalagi tempatnya dekat paud sehingga jadi sasaran utama kami, termasuk ibunya,” imbuhnya. Baca juga Bupati Magelang Ngetrip ke Gunung Telomoyo Naik Motor Tua Salah satu program yang diadakan Mata Pena ialah Anak Cerdas Desa Maju dan bekerjasama dengan pengembang media maupun aplikasi untuk mengakses buku online hingga berbagai pelatihan terkait literasi digital. Menurut Nur Chakim, salah satu donator, mengaku mengapresiasi adanya perpusdes di Larangan Kulon itu. Hal itu mengingat minat anak yang tinggi akan adanya bahan bacaan sehingga bisa mendorong karya-karya dan juga adanya penggiat literasi mulai dari usia dini. (win)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: