Kincir Air Bambu Masih Jadi Andalan Pertanian di Bondowoso Magelang
MENGALIR. Kincir air bambu di Sungai Gending, Bondowoso, terus berputar mengairi lahan dan kolam ikan warga tanpa listrik maupun bahan bakar.-IST-MAGELANG EKSPRES
MERTOYUDAN, MAGELANGEKSPRES.ID - Warga Dusun Gedongan Kulon, Desa Bondowoso, Mertoyudan, Kabupaten Magelang masih mempertahankan kincir air bambu warisan leluhur sebagai penopang utama pengairan sawah dan kolam ikan.
Alat sederhana itu memanfaatkan arus Sungai Gending tanpa bahan bakar dan listrik.
Nur Kholis (50), pembuat sekaligus pengguna kincir air di Bondowoso, mengatakan alat tersebut dibuat karena kebutuhan menaikkan air ke kolam ikan di atas sungai.
BACA JUGA:Polresta Magelang Selidiki Kasus Miras Oplosan yang Tewaskan 7 Warga Mertoyudan
“Saya membuat kincir karena butuh mengalirkan air ke kolam. Dulu sudah ada sejak zaman mbah saya. Saya hanya meneruskan,” ujarnya, Rabu (29/10).
Kincir air berdiameter 7 meter itu dibuat dari bambu petung.
Putaran roda terjadi saat air menghantam bilah bambu dan mengisi wadah bambu di bagian bawah.
BACA JUGA:DPRD Kabupaten Magelang Bersama Eksekutif Setujui Raperda, Propemperda 2026 dan Renja 2027
Lalu mengalir ke pipa di atasnya menuju sawah atau kolam.
“Kalau tersumbat sampah, tinggal dibersihkan. Bisa jalan terus 24 jam,” kata Kholis.
Ia kini mengandalkan kincir air untuk mengairi 8 kolam ikan yang diwariskan keluarganya.
Ikan bawal menjadi komoditas utama yang dibudidayakan.
“Tanpa kincir air, kolam saya kering,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: magelang ekspres