Negeri Tirai Bambu, Ketahanan Pangan dan Jalan Sunyi Kearifan Lokal
Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Dapil Jawa Tengah VI-IST-MAGELANG EKSPRES
MAGELANGEKSPRES.ID - Ada kalanya sebuah pelajaran tidak datang sebagai model yang harus ditiru, melainkan sebagai cermin yang membantu kita melihat diri sendiri dengan lebih jernih.
Pengalaman China dalam menjaga ketahanan pangan—yang di banyak wilayahnya bertumpu pada bambu dan tunas mudanya—tidak perlu dipahami sebagai metafora yang dipaksakan.
Ia lebih tepat dibaca sebagai cara berpikir: bagaimana suatu bangsa merawat sumber pangan sesuai dengan watak alamnya sendiri.
BACA JUGA:China dan Malaysia Akan Investasi di Jawa Tengah, Total Senilai 62,3 Triliun
Rebung di China tumbuh karena ekosistemnya memungkinkan.
Ia hadir di wilayah tertentu, pada musim tertentu, dengan batas panen yang dipahami bersama.
Tidak semua daerah bergantung padanya, dan tidak pula semua orang menjadikannya sumber utama pangan. Di situlah letak kebijaksanaannya.
Ketahanan pangan tidak dibangun dari satu jenis komoditas yang dipaksakan merata, melainkan dari kesadaran bahwa setiap lanskap memiliki kekuatannya sendiri.
BACA JUGA:Rutan Kelas IIB Temanggung Panen 450 Kg Bawang Merah, Libatkan Warga Binaan untuk Ketahanan Pangan
Pelajaran ini menjadi relevan bagi Indonesia, negeri dengan keragaman ekologi yang jauh lebih kompleks.
Dari sagu di timur, jagung dan umbi di wilayah kering, hingga padi di daerah basah, Indonesia sejatinya memiliki banyak “rebung”—banyak sumber pangan yang lahir dari kearifan lokal dan telah teruji oleh waktu.
Masalah kita bukan pada ketiadaan sumber, melainkan pada kecenderungan menyeragamkan.
Upaya pemerintah untuk keluar dari jebakan lama ketergantungan impor patut dibaca sebagai langkah korektif.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: magelang ekspres