Hilirisasi Ayam Terintegrasi : Peluang Bisnis bagi Generasi Muda

Hilirisasi Ayam Terintegrasi : Peluang Bisnis bagi Generasi Muda

Gelaran Milenial Agricultre Forum (MAF) Volume 7 Edisi 10 yang diselenggarakan Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta – Magelang (Polbangtan Yoma), Sabtu (7/3/2026)--

MAGELANGEKSPRES - Hilirisasi Ayam Terintegrasi menjadi program unggulan Kementerian Pertanian (Kementan). Yang memberikan peluang besar bagi generasi muda.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan pada gelaran Milenial Agricultre Forum (MAF) Volume 7 Edisi 10  yang diselenggarakan Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta – Magelang (Polbangtan Yoma), Sabtu (7/3/2026).

Untuk program ini, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan pembangunan Hilirisasi Ayam terintegrasi selesai dalam 1,5 tahun. Guna memperkuat swasembada protein sekaligus meningkatkan kapasitas ekspor produk unggas.

"Kita sudah groundbreaking. Kita bangun mulai ini tahun. Mudah-mudahan maksimal dua tahun sudah selesai. Kalau bisa satu tahun setengah," katanya.

Menurut Mentan Amran, saat ini sektor Ayam dan telur nasional telah mencapai swasembada, bahkan mencatatkan ekspor, sehingga Hilirisasi menjadi langkah strategis memperbesar nilai tambah.

Untuk itu, ekosistem Hilirisasi Ayam terintegrasi dibangun untuk memberi dampak yang signifikan. Yakni, meratakan sentra produksi Ayam dan telur, penyerapan tenaga kerja, peningkatan kesejahteraan petani, terciptanya stabilitas harga Ayam dan telur, serta kontribusi laba bagi BUMN.

Untuk itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP)  Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti, mendorong gerenasi muda untuk menjadi bagian dalam program strategis ini.

“Program ini menjadi strategi kunci untuk meningkatkan efisiensi, nilai tambah, dan kesejahteraan peternak.”ucapnya.

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Makmun menjelaskan, program ini memberikan peluang yang besar untuk generasi muda peternak.

generasi muda bisa terlibat langsung dalam proses budidaya, diversifikasi olahan menjadi siap masak atau siap makan, dan menciptakan industri kreatif berbasis teknologi dan peluang yang ada.” jelasnya.

Peternak muda bisa bekerjasama dengan koperasi atau mendirikan UMKM. Jika tidak bisa memasarkan produknya, Makmun menyebut peternak bisa menyalurkan ke BUMN.

Lebih Lanjut Makmum menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyediakan peluang yang besar. Dengan jumlah SPPG 30.089 unit, membutuhkan 774.448 ton telur/ tahun dan 1.135.915 ton daging Ayam/ tahun.

“Program MBG dengan 80 juta penerima manfaat menjadi demand kita. Surplus Ayam dan telur tersalurkan melalui program ini.” ucapnya.

Ia mengatakan populasi terbanyak tersentralisasi di Jawa dan Sumatera. 

‘Produksi kita sudah sangat surplus di Jawa, namun belum surplus secara provinsi/ pulau lainnya. Ini menjadi tantangan logistik yang harus kita atasi bersama.” tuturnya.

Pemerataan ini, disebut Makmun agar peternak di luar Jawa mendapatkan harga Day Old Chick (DOC) yang terjangkau. Sehingga Ia berharap peternak breeding hadir di pulau – pulau di luar Jawa.

“Ini harus teman teman lakukan, begitu lulus kuliah, sudah tau apa yang akan dilakukan.” ujarnya di hadapan mahasiswa Polbangtan Yoma di Kampus Tegalrejo, Magelang.

Direktur Polbangtan Yoma, R. Hermawan mengatakan program Hilirisasi Ayam terintegrasi menjadi tema strategis yang harus kita dukung bersama.

“Berkaitan dengan swasembada pangan, Hilirisasi Ayam juga harus kita lakukan. Ini kita lakukan bersama untuk mendukung 4 Program Utama Pemerintah yang disampaikan Presiden Prabowo pada Sidang Kabinet 2 Desember 2024 lalu.” jelas Hermawan.

Untuk itu, Ia mendorong generasi muda untuk menyiapkan diri guna mengatasi tantangan yang ada, sekaligus menangkap peluang dari program Hilirisasi Ayam terintegrasi ini. (*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait