MAGELANGEKSPRES.COM, TEMANGGUNG – Selama musim kemarau melanda, setidaknya hutan seluas 639.000 hektar di seluruh wilayah administrasi Perhutani Jawa Tengah sangat rawan bencana kebakaran. Oleh karena itu dibutuhkan koordinasi lintas lembaga yang kuat untuk mengantisiasi terjadinya kebakaran hutan. Weda Panji Hudaya, Expert Perlindungan Sumber Daya Hutan Bidang Pengendalian Kebakaran Perhutani Jawa Tengah mengatakan, semua hutan selama musim kemarau ini menjadi rawan kebakaran, karena kondisi tegakan dan vegetasi serta tanaman yang ada di hutan sudah muali mengering. “Musim kemarau, semua rawan kebakaran,” tukasnya usai Rapat Koordinasi Perlindungan dan Pengamanan Hutan di aula kebon resto Temanggung, Rabu (17/7). Oleh karena itu lanjutnya, butuh koordinasi lintas lembaga untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan di semua wilayah hutan milik Perhutani. Karena koordinasi yang kuat akan mencegah terjadinya bencana kebakaran. “Seperti pada tahun 2018 lalu, BNPB sampai menurunkan helikopter untuk mengatasi bencana kebakaran di Gunung Sumbing. Ini menunjukan bahwa koordinasi sudah sangat bagus. Harapan kami ke depan koordinasi seperti harus semakin ditingkatkan,” harapnya. Korrdinasi sendiri lanjutnya dilakukan di antara lembaga seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI dan Polri serta lembaga masyarakat desa di sekitar hutan yang ada. Selain koordinasi antar lembaga, juga sudah dibentuk satuan pengendali kebakaran. Satuan ini bertugas mengamati dan memantau serta terjun langsung melakukan pemadaman ketika terjadi kebakaran hutan. “Dari Perhutani sendiri sudah ada lima pos pemantau, belum dari TNI, Polri dan LMDH,” katanya. Berdasarkan pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, kebakaran hutan tidak terjadi setiap tahun di satu lokasi. Namun kebakaran terjadi dengan siklus waktu. Dirincikan, pada tahun 2012 terjadi kebakaran parah, tahun 2013 dan 2014 turun, tahun 2015 naik lagi dan di tahun 2016 dan 2017 turun dan tahun 2018 naik lagi. “Tahun 2018 lalu kebakaran cukup parah, terjadi di Gunung Sindoro dan Sumbing. Semoga saja tahun 2019 ini turun,” harapnya. Memang diakuinya, tahun 2018 kemarin Gunung Sindoro, Sumbing dan Andoong menjadi prioritas karena silkus iklimnya sangat panas dan kebakran hebat terjadi di ketiga gunung ini selama tahun 2018. “Ternyata siklusnya tiap tahun berganti, 2018 menjadi kebakaran sangat luas di Sindoro Sumbing, lainnya menurun. Sebelumnya Gunung Lawu terjadi kebakaran hebat,” terangnya. Berdasarkan siklus yang ada kebakaran akan terjadi tidak seperti 2018 lalu, tanda-tanda di pertengahan musim kemarau ada hujan “Selain siklus yang dipelajari juga kita kawal terus kondisi hutan. Rawan kawasan puncak, kekeringan sangat tinggi, tidak mudah dijangkau,” tandasnya. (set)
639.000 Hektar Hutan Rawan Kebakaran
Kamis 18-07-2019,02:47 WIB
Editor : ME
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Senin 24-08-2026,14:55 WIB
Video Anak Diduga Berbuat Tak Pantas di Kawasan Rindam Kota Magelang Viral, Polisi Turun Tangan
Senin 24-08-2026,14:59 WIB
Incar 820 Ribu Lowongan di Jepang, Jalur Kerja Mandiri Kini Hadir di Salam Magelang
Senin 24-08-2026,15:37 WIB
Sempat Dilarang Ibu, Pendaki 17 Tahun Tewas Terjatuh di Gunung Sumbing
Senin 24-08-2026,14:21 WIB
Plang SPPG Jurangombo Kota Magelang Viral, Dishub: Warna Cokelat Harusnya untuk Tempat Wisata
Senin 24-08-2026,15:09 WIB
Bunga Tabebuya Mekar di Jalan Magelang-Yogyakarta, Pantang Disiram Saat Kemarau
Terkini
Selasa 25-08-2026,13:18 WIB
Bapperida Kota Magelang Luncurkan SiKeren, Urus Absen ASN Makin Praktis
Selasa 25-08-2026,12:20 WIB
Gandeng Polisi, SMA Mutual Kota Magelang Ajarkan Ratusan Siswa Manfaatkan AI Secara Bijak
Selasa 25-08-2026,12:10 WIB
Tampil Memukau di Karnaval Desa, Marching Band Baskara Muda Bangun Karakter Siswa MI Muhammadiyah Danurejo
Selasa 25-08-2026,11:50 WIB
Cegah Uang Duka Ludes, BPJS Ketenagakerjaan Magelang Bekali Ahli Waris Jadi Pengusaha
Senin 24-08-2026,15:49 WIB