MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA - Indonesia melaporkan 3.507 kasus baru Covid-19. Sehingga total kasus seluruhnya mencapai 225.030 orang hingga Selasa (15/9). Kementerian Kesehatan mencatat kasus sembuh bertambah 2.660 orang, sedangkan kasus meninggal bertambah 124 orang dalam 24 jam terakhir. Total kasus sembuh menjadi 161.065 orang dan kasus meninggal berjumlah 8.965 orang. Indonesia saat ini menangani 55 ribu kasus aktif dan 99.634 orang berstatus sebagai suspect. Sebanyak 42.636 sampel spesimen dari 22 ribu orang diperiksa dalam 24 jam terakhir, yang merupakan rekor pemeriksaan harian tertinggi sejauh ini. Dan Jakarta di tengah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), jumlahnya semakin tinggi yakni 1.076 orang, kemudian Jawa Timur melaporkan 378 orang, Jawa Barat melaporkan 347 orang, dan Sumatra Utara melaporkan 249 orang. Sementara itu, kasus kematian tertinggi dalam 24 jam terakhir dilaporkan oleh Jakarta (32 kasus) dan Jawa Timur (32 kasus). PSBB diberlakukan setelah perkantoran diklaim sebagai biang keladi wabah Virus Corona yang tumbuh subur di DKI Jakarta. Sayangnya usaha ritel terutama restoran paling terimbas kebijakan PSBB. Sementara perkantoran masih juga longgar. Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menyatakan, PSBB tahap pertama yang dilakukan di berbagai daerah menjadi pukulan berat bagi para pelaku retail. Ia memperkirakan, terdapat 5-6% anggota Aprindo yang tutup dan belum bisa kembali buka hingga kini. ”Jadi belum recovery, tetapi mulai membaik. Kalau sekarang masih 9%, tetapi sudah ada pertumbuhan,” terangnya, kemarin Sementara Head of Mandiri Institute Teguh Yudo Wicaksono menambahkan, PSBB yang kini diperketat akan kembali menurunkan angka kunjungan masyarakat yang sudah meningkat tersebut. ”Dinamika kunjungan akan sangat bergantung dengan kebijakan PSBB. Pemberlakuan PSBB akan cenderung menurunkan angka kunjungan,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Selasa (15/9). Berkaca dari apa yang dipaparkan Roy dan Yudo, dalam riset tim Mandiri Institute dengan metode live menyebutkan, dari tracking dari 5.968 lokasi toko dan 7.531 restoran di 8 kota besar nampak jelas perbedaannya. Periode pelacakan berlangsung dari minggu pertama bulan Juli hingga Agustus 2020. Per Agustus 2020, tingkat kunjungan ke tempat belanja sudah mencapai 57%. Data menunjukkan bahwa angka kunjungan tertinggi retail pada Agustus lalu adalah ke shopping mall (61%) diikuti oleh supermarket (56%), dan toko lainnya (55%). Kunjungan ke mal naik cukup tinggi dari sebelumnya 44% pada Juli 2020. ”Adanya pekerja yang bekerja dari kantor berkontribusi pada kenaikan angka kunjungan ke shopping mall. Selain itu, keinginan konsumen untuk mencari hiburan juga membantu kenaikan angka kunjungan ke shopping mall,” tulis tim Mandiri Institute dalam laporan risetnya. Dalam survei Mandiri Institute itu juga disebutkan, tingkat kunjungan pusat belanja tertinggi selama Agustus 2020 berada di kota Makassar (66%), Denpasar (59%), dan Jakarta (57%) Ketiganya berada di atas rata-rata kota besar di Indonesia, meskipun angkanya terpaut tipis dengan Bekasi (56%), Surabaya dan Medan (55%), dan Tangerang (53%). Kunjungan di pusat perbelanjaan itu rupanya diikuti oleh meningkatnya tingkat makan di tempat (dine-in) restoran. Pada Agustus 2020, rerata dine in restoran telah mencapai 52,3%. Dalam riset ini, peneliti membagi dua kategori besar berdasarkan jenis restoran. Pertama, adalah general restaurant yang merupakan restoran yang menawarkan menu makanan beragam dan banyak menarik konsumen, terutama masyarakat kelas menengah-bawah. Kedua, ada Specialty restaurant yang menjual makanan seperti Japanese food, steakhouse, dan western food. Umumnya memiliki menu yang spesifik dan menargetkan sebagian masyarakat, terutama menengah atas. Dari kategori di atas, data menunjukkan bahwa masyarakat kelas menengah bawah tampaknya sudah mulai berani untuk makan di tempat, terlihat dari angka dine-in pada restoran General, Local dan Fast Food yang di atas 50%. Sementara masyarakat kelas menengah atas sepertinya masih ragu-ragu untuk dine-in di restoran. Ini terlihat dari angka kunjungan restoran Specialty yang masih di bawah 50%. Ketua DPD Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DKI Jakarta Ellen Hidayat menyatakan, bisnisnya terdampak. ”Dengan tidak diijinkannya dine in untuk makan di tempat tentunya akan bisa mempengaruhi traffic yang sudah dicapai saat ini, apalagi perkantoran juga dibatasi,” pungkasnya. (fin/ful)
Ada PSBB Corona Kian Menggila
Rabu 16-09-2020,03:21 WIB
Editor : ME
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Senin 27-04-2026,15:36 WIB
Tabrakan Beruntun RX King dan Truk di Ngluwar Magelang, Satu Pengendara Tewas
Senin 27-04-2026,15:40 WIB
Harga Pakcoy Anjlok Rp500 di Pasar Sewukan Magelang, Kembang Kol Justru Meroket Tajam
Senin 27-04-2026,15:45 WIB
Buka Peluang Usaha Tahan Banting, BLK Kota Magelang Latih Pemuda Jadi Barber Profesional
Senin 27-04-2026,15:31 WIB
Skor Fantastis 99,00, Kota Magelang Sabet Juara 1 Penerapan SPM se-Jawa Tengah
Selasa 28-04-2026,12:30 WIB
Lesbumi PCNU Purworejo Dorong Living Heritage Menoreh, Stamba Diduga Peninggalan Mataram Kuno Terancam Rusak
Terkini
Selasa 28-04-2026,15:27 WIB
Musrenbang Jateng 2027 Bukukan 37 Ribu Usulan, Mayoritas Soal Infrastruktur Desa
Selasa 28-04-2026,15:18 WIB
Borobudur Diperkuat Jadi Pusat Religi Dunia, Pemprov Jateng Segera Perbarui MoU
Selasa 28-04-2026,13:30 WIB
Daya Tarik Kawasan Borobudur Highland Diperkuat, BPOB dan Nglinggo Kolaborasi Perbanyak Atraksi Wisata
Selasa 28-04-2026,13:00 WIB
TKA Temanggung 2026 Diikuti 17 Ribu Siswa, Dindikpora Atur Gelombang dan Antisipasi Listrik-Jaringan
Selasa 28-04-2026,12:30 WIB