Alit yang saat itu bekerja di Dinas Pendidikan Nasional terus berupaya keras agar kesenian rakyat harus tetap berkembang.
"Kemudian saya cari bibit-bibit tari. Lalu menemukan Tari Kuntulan di Gebalan. Saat itu ditarikan oleh penari laki-laki, durasinya semalam suntuk. Lalu kita ringkas menjadi 15 menit. Semula jadi 30 menit, lalu 7 menit dan 5 menit," papar Alit.
BACA JUGA:Kerja Sama Positif, BP Jamsostek Magelang dan Perhutani Gelar Sarasehan Bersama
Kelompok Tari Kuntulan karya Alit ini pernah menorehkan sejumlah prestasi.
Antara lain, Juara 1 Lomba Pelestarian Kesenian Rakyat se-Jawa dan Bali, serta Juara 1 Parade Seni Provinsi Jawa Tengah.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang Imam Baihaqi menjelaskan, pentas seni Tari Kuntulan diikuti oleh sekitar 1.000 peserta, meliputi pelajar SD, SMP dan penari sanggar-sanggar tari di Kota Magelang.
"Kita mempunyai kesenian khas Kota Magelang, maka kita harus menghidupkan kesenian ini. Selain itu juga untuk menghargai penciptanya, karena selama ini anak-anak tidak ada yang tahu maka kita hadirkan (penciptanya)," jelasnya. (*)