Sendratari Babad Mahardika Proses Kreatif Perlu Evaluasi

Kamis 02-05-2024,13:12 WIB
Reporter : Aulia Rifa Urbah
Editor : Aulia Rifa Urbah

Pada dasarnya seni tari merupakan ekpresi gerak yang terungkap dalam gerak ritmis penuh estetika yang hasilnya tidak dapat diperoleh dengan instan. Setinggi-tingginya profesional penari, karena sendratari merupakan kerja kolektif, maka kalau latihannya sangat terbatas, maka hasilnya juga tidak optimal.

Ketiga, yang perlu juga menjadi perhatian formasi koreografi kelompok masih cenderung menggunkan motif unison (gerak serempak). Kiranya perlu divariasikan dengan motif-motif lain, seperti canon atau bergantian, alternate atau selang-seling agar tidak monoton.

Gamelan  sebagai pendukung tari, kadang indikator kendang sering tidak sambung dengan gerak penari. Kemungkinan besar, juga bergabungnya penari dengan karawitan juga terbatas, sehingga rasa iringan dan rasa gerak kadang tidak matching.

BACA JUGA:1.314 PPPK Purworejo Terima SK Pengangkatan

Keempat, ending dari cerita tersebut putus. Ketika para perampok dikalahkan, tentunya ada adegan penyerahan Prasasti Mantyasih dari Raja Balitung kepada para patihnya. Momentum ini yang sebenarnya ditunggu.

Untuk tokoh Balitung pun tidak nampak dalam alur cerita tersebut. Padahal tokoh ini merupkan tokoh sentral.

Sebelum dinobatkan menjadi raja, tokoh ini menjadi pemimpin yang memantik rakyat Mataram bersatu padu melawan para perampok yang telah menyengsarakan rakyat Mataram.

“Saya heran, endingnya malah seperti tari hiburan atau sosial yang mengajak penonton utnuk menari,” lanjut Dwi.

Seharusnya ending ceritanya, perlu dirunutkan dengan narasinya, yaitu pemberian prasasti Mantyasih dengan nuansa gending agung layaknya upacara protokoler.

BACA JUGA:Kagum dengan KRAP III, Wali Kota Magelang Janji Bakal Sokong APBD Mulai Tahun Depan

Setelah upacara pemberian prasasti, baru tepat bila dilakukan dengan penyajian tari  yang meluapkan kegembiraan.

Namun kiranya juga perlu diatur. Kemarin seperti penarinya tidak dihatur sehingga kelihatan semrawut, tidak enak dilihat dalam perspektif estetika.

Malah yang banyak mengganggu,  para penata tari  yang notabene tidak memakai kostum sesuai ikut menari di depan. Tak urung penari di belakangnya, menarinya juga asal-asalan tidak terkontrol.

Mencermati hal tersebut Dwi berpesan, kiranya para penata tari sekarang perlu berdialog dengan para pinisipuh yang merintis sendratari tersebut, seperti Bapak Alit Maryono.

BACA JUGA:Dukung Visi Misi Pemkot Magelang, PDAM Distribusi Truk Tangki Air Bersih Secara Gratis untuk Tempat Ibadah

Beliau merupakan tokoh dan budayawan Kota Magelang yang layak diminta pertimbangan dan sumbang sarannya, agar pesan dari sendratari tersebut dapat sampai kepada penonton dengan memenuhi standar orisinalitasnya.

Kategori :