TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.ID – Pemerintah Kabupaten Temanggung terus mengembangkan program Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai langkah strategis untuk meminimalkan dampak dan korban saat terjadi bencana alam.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Temanggung, Totok Nursetyanto, menjelaskan bahwa pembentukan Destana difokuskan di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi, terutama di kawasan pegunungan dan perbukitan.
“Destana ini memang dibentuk di daerah yang sangat rawan terjadi bencana alam, terutama desa-desa di wilayah pegunungan dan perbukitan,” ujar Totok, Kamis (30/10/2025).
BACA JUGA:Temanggung Siaga Hadapi Musim Hujan 2025, Kapolres dan Bupati Ajak Warga Waspada Bencana Alam
Totok menuturkan, hingga kini sudah terbentuk 34 desa tangguh bencana di berbagai kecamatan di Temanggung.
Program ini akan terus diperluas agar seluruh wilayah rawan bencana memiliki kesiapan dan pemahaman dalam melakukan penanganan awal saat terjadi bencana.
“Pemerintah Kabupaten Temanggung terus menambah jumlah Destana. Harapannya, semua masyarakat di daerah rawan bisa memahami cara penanganan pertama dan mengenali potensi bencana di lingkungannya,” imbuhnya.
BACA JUGA:DPRD Temanggung Temukan Banyak Dapur Gizi Belum Bersertifikat dan Buang Limbah ke Sungai
Selain 34 desa yang sudah resmi menjadi Destana, saat ini juga terdapat 43 desa atau kelurahan rintisan yang tengah dalam proses pembentukan.
Wilayah tersebut tersebar di Kecamatan Kedu, Kandangan, dan Kaloran, yang dikenal memiliki potensi bencana alam cukup tinggi.
Menurut Totok, pembentukan Destana bertujuan mempersiapkan masyarakat di daerah rawan agar lebih tangguh menghadapi bencana seperti banjir, longsor, gempa bumi, dan angin kencang.
BACA JUGA:Komplotan Spesialis Pencuri Elektronik di Sekolah Dasar Temanggung Dibekuk Polisi
“Tujuan utama Destana adalah melindungi masyarakat dari dampak bencana, sekaligus meningkatkan kapasitas kelembagaan dan peran serta masyarakat, terutama kelompok rentan, dalam mengelola sumber daya untuk mengurangi risiko bencana,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini program Destana juga mendapat dukungan dari kalangan akademisi.
Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) ikut berpartisipasi langsung dalam proses pembentukan desa tangguh bencana di lapangan.