Agus menambahkan bahwa selain tatap muka, laporan tugas berupa rekaman suara atau video singkat juga harus diunggah siswa melalui formulir digital agar poin pemantauan bisa dicatat.
Guru SMPN 6 Magelang turut mendukung Program Cakrawala, praktik multibahasa para siswa-DOK-SMPN 6 MAGELANG
Perhatian khusus rupanya diberikan untuk pelestarian bahasa Jawa. Pasalnya, penguatan bahasa daerah ini diwadahi lewat selipan program bernama Lestari Elok. Setiap Kamis pada minggu keempat, nuansa tradisional akan lebih ditonjolkan di lingkungan sekolah, mulai dari kewajiban berbahasa Jawa hingga pengenaan pakaian adat.
BACA JUGA:SMP Negeri 13 Magelang Matangkan Persiapan TKA, Jadi Harapan di Momentum HUT Sekolah
Di lapangan, kata Agus, sistem pemantauan digital diterapkan secara ketat demi menyiasati satu kendala utama, yakni menjaga konsistensi.
Apresiasi berupa predikat "Star of the Week" pun diberikan bagi siswa yang rajin. Sebaliknya, pembinaan tambahan di klinik bahasa menanti mereka yang enggan mematuhi jadwal.
Seluruh sistem penghargaan dan sanksi ini dibuat bukan semata-mata untuk menghukum, melainkan punya satu target jangka panjang yakni membentuk kebiasaan berbahasa yang melekat kuat di luar jam sekolah.
"Anak-anak antusias, tetapi menjaga konsistensi itu yang menjadi tantangan. Harapannya, penggunaan bahasa tidak hanya saat jadwal berlangsung, tetapi juga terbiasa dalam interaksi sehari-hari,” pungkas Agus.
BACA JUGA:Kanada Lirik Investasi Pertanian dan Kesehatan di Jateng, Energi Terbarukan Jadi Daya Tarik
Berbekal inovasi Cakrawala ini, budaya saling sapa yang komunikatif diharapkan bisa segera terbentuk secara alami di SMPN 6 Magelang. Pada akhirnya, rasa percaya diri siswa saat harus berbicara di depan khalayak luas juga akan ikut terdongkrak. (adv)