Penghasilan kotornya sekitar Rp 5 juta per bulan. Angka itu lekas menyusut dipotong modal jualan, uang sewa rumah Rp 800 ribu, hingga tagihan listrik dan air.
BACA JUGA:Ratusan Bus di TMII Siap Angkut Peserta Mudik Gratis Pemprov Jateng
Belum lagi urusan dapur dan biaya pendidikan anak.
"Kalau musim Lebaran begini, pengeluaran pasti membengkak. Tiket bus ke Karanganyar saja bisa tembus Rp 600 ribu per orang. Makanya mudik gratis ini sangat membantu," ungkapnya.
Lulik mengaku tak pernah absen mengikuti program Pemprov Jateng ini sejak 2016.
BACA JUGA:Jelang Mudik Lebaran, Tujuh Titik Jalur Wonosobo Dipantau
Jika dulu ia harus rela antre berjam-jam di Kantor Badan Penghubung Jateng, kini urusan pendaftaran jauh lebih praktis karena cukup diakses lewat aplikasi Jateng Ngopeni Nglakoni (JNN).
Manfaat nyata mudik gratis ini tak hanya dirasakan Lulik, tapi juga menular ke rekan seprofesinya, Bejo Fauzan.
Bejo adalah penjual bakso Solo yang membuka lapak di kawasan Tanah Kusir.
Pria asal Jatiyoso, Karanganyar ini sudah malang melintang berjualan sejak 1994.
BACA JUGA:Sambut 17,7 Juta Pemudik, Posko Terpadu Lebaran 2026 Jawa Tengah Resmi Beroperasi 24 Jam Nonstop
Kisahnya panjang, mulai dari memikul dagangan, memakai sepeda ontel, hingga kini mampu menyewa bangunan bekas warteg seharga Rp 3,5 juta per bulan.
Uniknya, meski sudah puluhan tahun mencari nafkah di Jakarta, baru pada Lebaran 2026 ini ia merasakan nikmatnya mudik gratis. Itu pun karena dibantu pendaftarannya oleh Lulik.
"Baru tahu tahun ini dari Mas Lulik. Bersyukur sekali, uang tiket yang biasanya habis lumayan banyak, sekarang bisa dialihkan buat beli susu anak dan tambahan bekal Lebaran di kampung," tutur Bejo