"Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri." (QS. Al-Qashash: 81)
Qarun adalah sosok orang terkaya di masa Nabi Musa 'alaihissalam. Kalau bicara kekayaannya, Allah memberikan kepadanya gudang-gudang harta, yang kuncinya itu dipikul oleh orang-orang yang kuat. Disebutkan bahwasanya jumlahnya antara 3 sampai 10 orang yang memikul. Ada yang berkata 10 sampai 40 orang; dan mereka adalah orang-orang yang kuat.
Qarun habis ceritanya. Tapi sampai hari ini masih diceritakan tentang harta karun.
"Allah benamkan dia bersama rumahnya, bersama semua hartanya ke dalam bumi."
Tidak ada yang bisa menolong dia. Kalaupun dia mempunyai pasukan, tentara, prajurit, bodyguard, pengawal, mungkin itu kalau ada yang mau memukul Qarun, mungkin dia bisa menyelamatkan Qarun. Kalau ada yang mau menembak Qarun, mungkin dia bisa bagaimana menyelamatkan Qarun. Tapi kalau bumi ini terbelah, kemudian rumah dan Qarun masuk ke dalamnya, apa yang bisa dilakukan oleh bodyguard-bodyguard Qarun? Tidak ada.
Setelah kejadian itu, kalau ada yang sebelumnya berambisi dunia, ingin seperti yang dimiliki Qarun, akhirnya tidak jadi. Ternyata, Allah itu meluaskan rezeki kepada siapa yang Allah kehendaki, dan menyempitkan bagi siapa yang Allah kehendaki. Kalau Allah tidak memberikan karunia kepada kita maka habislah seperti Qarun.
BACA JUGA:5 Kiat Meraih Umur yang Berkah
Maka kisah Qarun ini, seharusnya menjadi pelajaran buat setiap manusia. Tidak ada yang bisa yang kita sombongkan. Karena sejatinya semua milik Allah 'Azza wa Jalla.
Dunia dan isinya itu tidak lebih dari satu sayap nyamuk. Tapi karena orang itu ambisinya dunia, maka dia berpikir bahwa orang yang beruntung adalah orang yang kaya.
Berbeda dengan orang yang mempunyai ilmu, yang mengetahui bahwasanya dunia ini akan ditinggalkan, sepanjang apa pun umurmu, seluas apa pun kekuasaanmu, kita akan mati, meninggalkan dunia selama-lamanya. Maka yang punya ilmu mengatakan bahwa pahala dari Allah itu yang lebih baik. Kita bisa beriman dan beramal saleh adalah keberuntungan yang besar.
Kita bisa duduk mengikuti kajian merupakan keberuntungan. Setiap tiap detik yang kita lewati akan menjadi pahala. Tapi, itu semua membutuhkan kesabaran. Tidak bisa melakukan ketaatan kecuali orang-orang yang sabar. (*)
*) dari Kajian Ustadz Syafiq Riza Basalamah