TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.ID - Relawan di kawasan Gunung Sumbing, Kabupaten Temanggung, bergerak cepat menangani kebakaran hutan dan lahan.
Mulai dari menyisir keberadaan pendaki hingga memadamkan titik api di sejumlah jalur.
Setelah beberapa hari berjibaku di lapangan, seluruh titik api dinyatakan padam pada Sabtu (24/10/2026), dilanjutkan dengan proses pendinginan di kawasan Segoro Wedhi.
BACA JUGA:Kebakaran Gunung Sumbing Padam, Ahmad Luthfi Percepat Reboisasi dan Pemulihan Saluran Air
Salah satu relawan yang terlibat adalah Jumari, atau akrab disapa Petruk. Ia yang juga sebagai Wakil Ketua Basecamp Pendakian Bimawari di Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, menceritakan rangkaian upaya penanganan kebakaran yang dilakukan bersama sejumlah basecamp di kawasan Gunung Sumbing.
Jumari mengatakan, informasi kebakaran pertama kali diterima dari wilayah Wonosobo pada Senin (19/10/2026) sore. Ketika mendapat kabar api mulai menjalar ke sisi Temanggung, relawan Basecamp Bimawari segera melakukan persiapan untuk membantu penanganan.
"Mulai kebakaran itu kan jam 4 sore hari Senin. Di sini dapat kabar dari Wonosobo. Jadi hari Selasa itu kami melakukan penyisiran pendaki yang di atas atau di Segoro Wedhi. Lalu hari Rabu kami mengamankan aset dulu seperti patok (penanda) dan CCTV di sepanjang rute pendakian," ujarnya saat ditemui di Basecamp Pendakian Bimawari, Minggu (25/10/2026).
BACA JUGA:Dandim Temanggung Tinjau Kebakaran Gunung Sumbing, Pastikan Kebutuhan Relawan Terpenuhi
Setelah memastikan keberadaan pendaki dan mengamankan sejumlah aset di sepanjang jalur, relawan melanjutkan upaya penanganan dengan bergabung bersama kelompok lain untuk memadamkan api.
Pada Kamis (22/10/2026), personel Basecamp Bimawari bergabung dengan Basecamp Batursari untuk memadamkan titik api. Selanjutnya, pada Jumat (23/10/2026), mereka bersama relawan Basecamp Banaran menangani kebakaran di Jalur Cepit dan Glapansari.
"Lalu pada hari Sabtu api sudah padam semua dan kami melakukan pendinginan di Segoro Wedhi," katanya.
BACA JUGA:Cegah Kebakaran Susulan, Pemprov Jateng Minta Seluruh Jalur Pendakian Gunung Ditutup Sementara
Jumari menjelaskan, proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala, terutama angin kencang yang berpotensi mempercepat penjalaran api serta medan terjal yang menyulitkan akses menuju titik kebakaran. Dalam kondisi tersebut, relawan melakukan pemadaman secara manual menggunakan kayu.
Ia menambahkan, kebakaran di Gunung Sumbing pada 2026 bukan kejadian pertama. Kebakaran besar juga pernah melanda kawasan tersebut pada 2019 sehingga upaya pencegahan dan kesiapsiagaan dinilai perlu terus diperkuat.
Kepala Desa Wonosari, Agus Parmuji, berharap pemerintah dan pemangku kepentingan terkait memberikan perhatian terhadap kebutuhan infrastruktur untuk mendukung penanganan kebakaran di kawasan Gunung Sumbing.