Petani Magelang Berinovasi, Tembakau Krosok Jadi Andalan di Tengah Cuaca Ekstrem
PENGOLAHAN TEMBAKAU. Petani di Desa Kaponan, Kecamatan Pakis, menjemur daun tembakau krosok di tempat terlindung dari hujan, Senin (13/10).-HENI AGUSNINGTYAS-MAGELANG EKSPRES
MUNGKID, MAGELANGEKSPRES.ID – Di tengah cuaca yang kian sulit diprediksi, petani Magelang menemukan cara baru untuk bertahan.
Jika dulu tembakau rajangan menjadi andalan, kini sebagian petani beralih ke tembakau krosok yang lebih efisien dalam proses pengeringan dan penjualan.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Widiarto Tri Saksono, menyampaikan bahwa tembakau masih menjadi komoditas penting bagi warga, terutama di wilayah dataran tinggi.
BACA JUGA:UKM Pelita Dorong Konservasi Kopi di Magelang, Edukasi Petani Hadapi Jamur Upas
"Lahan tembakau musim 2025 mencapai sekitar 3.500 hektare, naik dari 3.250 hektare pada tahun lalu. Namun, sebagian besar berada di lereng Gunung Sumbing dan Merapi-Merbabu," ujar Widiarto, Senin (13/10).
Ia menjelaskan, perubahan pola cuaca membuat petani perlu beradaptasi.
Salah satu cara ialah menerapkan sistem tumpangsari dengan tanaman hortikultura seperti kobis, tomat, wortel, atau sawi.
BACA JUGA:Dukung Regenerasi Petani, Alumni Polbangtan Kementan Kontribusi Dukung Ketahanan Pangan
"Dengan tumpangsari, lahan tembakau tetap produktif. Saat kondisi tak mendukung, hasil panen sayur bisa menutup biaya operasional," jelasnya.
Selain tumpangsari, inovasi juga muncul pada tahap pascapanen.
Beberapa tahun terakhir, banyak petani mulai meninggalkan cara tradisional merajang daun tembakau.
Sebagai gantinya, mereka mengeringkan daun utuh secara alami.
BACA JUGA:Kabupaten Magelang Siapkan Tiga Varietas Baru Tembakau, Petani Siap Sambut Musim Tanam
"Daun hanya perlu diangin-anginkan di tempat terlindung dari hujan. Proses ini lebih hemat waktu dan tenaga, meski harga jualnya sedikit di bawah tembakau rajangan," tambah Widiarto.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: magelang ekspres