Hari ini Paling Pas untuk Keceh Sambil Madang Bareng di Kaliwot Magelang, Kalau Nggak Mau Antre

Hari ini Paling Pas untuk Keceh Sambil Madang Bareng di Kaliwot Magelang, Kalau Nggak Mau Antre

Pengunjung Kedai Kaliwot di Desa Sambak Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang selalu ramai pada hari Minggu dan libur. Foto: istimewa--

MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.DISWAY.ID - Hari ini dan selain hari Minggu lainnya, waktu yang pas untuk keceh dan ngadem sambil madang bareng di Kaliwot Magelang. Kalau ingin liburan di Kedai Kaliwot disarankan jangan hari Minggu karena antrenya bisa sampai 2 jam. Tapi bila hanya punya waktu luang di hari Minggu datanglah lebih pagi.

Manager Operasional Kedai Kaliwot, Putri mengungkapkan, rata-rata pengunjung menghabiskan waktu 2 jam lebih setiap berkunjung. Satu hal unik yang membuat orang penasaran adalah karena adanya fasilitas makan di sungai. “Sebenarnya kalau secara penataan lokasi, kita ini sangat sederhana. Hanya apa adanya, tapi mungkin karena apa adanya khas pedesaan itu justru yang bikin betah pengunjung,” katanya.

Sungai yang dijadikan tempat makan ini alirannya tidak besar, juga tidak dalam alias dangkal sehingga aman untuk aktivitas anak-anak.  Selain itu lingkungan sungai dan air yang mengalir pun cukup bersih. “Dulu sekitar dua tahunan lalu sungai ini kotor, karena ada limbah industri tahu yang langsung dialirkan ke sungai. Tapi sekarang limbah sudah diolah menjadi biogas, jadi sungainya sudah lumayan bersih” kata Putri.

Menu makanan yang disajikan cukup beragam. Mulai dari olahan daging ayam, sapi, dan ikan. Yang menarik harga menu di kedai ini relatif murah. Misalnya untuk gurami asam manis harganya cuma Rp 25.000.

Menurut Putri, menu favorit pengunjung selain gurami asam manis adalah olahan sapi. “Ada satu menu yang istimewa namanya sop tulang brontosaurus. Ini tulangnya gede banget. Banyak yang suka, banyak yang pesan ini lalu foto-foto dulu sebelum dimakan,” kata dia.

Untuk menjangkau, lokasinya sangat mudah. Lokasi persisnya ada di Desa Sambak Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang, sekitar 20 kilometer dari Candi Borobudur. 

Bagi yang membawa kendaraan pribadi, area parkir berada di tepian jalan, di sana sudah ada petugas parkir yang mengatur. Dari parkiran pengunjung harus jalan kaki sekitar 150 meter menyusuri pemukiman warga desa yang sejuk dan asri. Pihak pengelola mengaku sengaja tidak membuka akses kendaraan sampai ke lokasi agar pengunjung bisa merasakan denyut kehidupan pedesaan. Selama berjalan kaki, pengunjung akan disuguhi beragam aktivitas khas orang desa. Ada warga yang hendak pergi ke sawah, ada yang berjualan kecil-kecilan di teras rumah, ada tukang kayu dengan aktivitasnya, ada yang sedang mengolah kebun kecil di pekarangan rumah, dan banyak lagi lainnya. Terlihat sangat damai dan menentramkan. Kehidupan seperti berjalan sangat pelan di desa ini.

Sampai di lokasi kedai suasana santai sangat terasa. Sinar matahari siang yang terik dihalau oleh rimbunnya pepohonan, pengunjung benar-benar dimanjakan dengan kesejukan dan keasrian di tempat ini. (rls/me)

Sumber: