Kisah Painah Penjual Daun Pisang Asal Wonosobo Berangkat Haji
PENJUAL. Painah, penjual daun pisang asal Ngedok Sumberan Barat, Wonosobo Barat berangkat haji tahun 2026. - AGUS SUPRIYADI - MAGELANGEKSPRES ---
WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.ID - Di bawah temaram lampu Pasar Pagi Wonosobo, saat sebagian besar orang masih terlelap dalam selimut, Painah sudah berjibaku dengan dingin yang menusuk tulang.
Sejak pukul 01.30 WIB, langkah kaki renta perempuan asal Dusun Ngedok ini sudah akrab dengan aspal basah. Di pundaknya, tersampir beban yang kelak menjadi tiketnya menuju Baitullah, ikatan daun pisang.
Bagi banyak orang, daun pisang mungkin hanya pelengkap bungkus makanan yang murah meriah. Namun bagi Painah, setiap lembar hijau itu adalah butiran tasbih doa yang ia kumpulkan selama puluhan tahun.
Painah bukanlah saudagar besar. Ia adalah buruh pemetik daun yang telah setia pada profesinya selama lebih dari 40 tahun. Setiap harinya, ia memetik, melipat, dan menimbang daun-daun itu dengan teliti. Satu kilogram daun pisang ia hargai sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000.
BACA JUGA:Dari Pakan hingga Limbah, Polbangtan Kementan Ajari Peternak Temanggung Kelola Ternak Modern
"Uangnya dikumpulkan di rumah. Kalau jualan kadang dapat 200 ribu, kadang 100 ribu, bahkan pernah hanya 15 ribu rupiah," kenang Painah kemarin.
Meski pendapatannya bak pasang surut air laut, tekadnya tetap seteguh batu karang. Sejak mendaftar haji pada tahun 2012, sisa uang belanja ia simpan rapat-rapat. Tak ada kemewahan, yang ada hanyalah konsistensi untuk menyisihkan receh demi receh hasil keringatnya sendiri.
Empat belas tahun mengantre bukanlah waktu yang singkat bagi seorang lansia. Di sela-sela rutinitasnya menitipkan daun ke warung-warung hingga siang hari, Painah sering dirundung kekhawatiran sederhana tentang usia.
"Kalau saya tidak dapat kesempatan (berangkat) karena sudah meninggal, ya uangnya diambil lagi. Tapi kalau masih diberi kesempatan, ya Alhamdulillah, saya ikut berangkat," tuturnya dengan nada pasrah namun penuh harap.
BACA JUGA:Ratusan Botol Miras Disita Satpol PP Purworejo, Penjual Terancam Jalur Yustisi
Ketakutannya akan "panggilan yang mendahului" kini sirna. Tuhan ternyata lebih dulu memanggilnya sebagai tamu ke Tanah Suci daripada memanggilnya pulang ke keabadian.
Kini, kebun pisang yang ia tanam dan rawat sendiri menjadi saksi bisu keberhasilannya. Painah tidak lagi sekadar mengambil stok dari pengepul, ia berangkat dengan hasil buminya sendiri.
Jadwal keberangkatan itu sudah di depan mata. Pada Jumat (15/5) malam, melalui Embarkasi Yogyakarta, Painah akan terbang menuju Makkah. Ia tidak hanya membawa koper berisi pakaian ihram, tetapi juga membawa martabat seorang pejuang ekonomi kecil yang membuktikan bahwa niat suci tak pernah bisa dihalangi oleh tipisnya dompet.
Di balik setiap lembar daun pisang yang layu di pasar, ada doa Painah yang tumbuh subur. Dan Jumat besok, doa itu akhirnya berbuah keberangkatan yang paripurna. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: