JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyebutkan defisit transaksi berjalan atau CurrentAccount Deficit (CAD) sepanjang 2019 sebesar USD30,4 miliar atau 2,72 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Dalam keterangan resminya, kemarin (10/2), realisasi tersebut turun tipis dibandingkan dengan capaian 2018 yang sebesar USD31,1 miliar atau 2,94 persen tahunan (yoy) dari total PDB. \"Perkembangan tersebut terutama ditopang oleh neraca perdagangan barang yang mencatat surplus, berbeda dibandingkan tahun sebelumnya yang mengalami defisit,\" tulisnya. Neraca perdagangan barang surplus dikarenanakan surplusnya neraca perdangan nonmigas yang meningkat serta defisit neraca peradangan migas yang menurun. Adapun defisit menyusut tersebut dipengaruhi turunnya impor minyak di mana sejalan dengan kebijakan pengendalian impor, seperti program B20. Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan, perbaikan neraca perdaganan tersebut lantaran kebijakan pemerintah mengekang impor. Di antaranya, B20 dan program substitusi impor yang berdampak buruk dan pelemahan pertumbuhan global menyebabkan permintaan ekspor melemah. \"Tahun ini kami perkirakan defisit neraca perdagangan akan sedikit melebar menjadi 2,88 persen dari PDB. Angka tersebut melebar naik tipis dari perkiraan defisit pada 2019 sebesar 2,70 persen PDB karena perbaikan iklim investasi dapat meningkatkan impor bahan baku dan barang modal,\" ujar dia. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, sebelumnya menilai defisit transaksi berjalan masih akan terjadi. Hal itu karena kinerja ekspor masih melorot seiring dengan harga komoditas yang turun. Ditambah lagi, peningkatan impor konsumsi. “Sehingga neraca perdagangan defisit, neraca jasa juga masih defisit,” kata Enny. Bukan hanya itu, menurutnya neraca modal juga berpotensi floating. Hal tersebut dapat diselesaikan apabila terdapat Foreign Direct Investment/FDI. Menurut dia, saat ini permasalahan kepastian investasi yang masih terjadi. Oleh karena itu dia meminta segera diperbaiki, dan tidak perlu bergantung pada Omnibus Law. “Kepastian investasi harus diperbaiki, tidak selalu harus bergantung pada omnibus law,” katanya. Padahal, Presiden Joko Widodo sebelumnya mengatakan bahwa Indonesia baru merdeka jika dapat menyelesaikan defisit transaksi berjalan tersebut. Dalam mengatasi persoalan defisit transaksi berjalan, saran dia, harus ada perbaikan di sektor riil, terutama di sektor pengolahan.“Itu bisa berpotensi untuk meningkatkan ekspor, sekaligus substitusi impor,” ucap dia. Apalagi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja impor November 2019 jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kinerja ekspor November 2019. Secara total kinerja impor November 2019 mencapai USD15,34 miliar, jika dibandingkan dengan kinerja ekspor terjadi defisit sebesar USD1,33 miliar.(din/fin)
Defisit Transaksi Berjalan USD30,4 Miliar
Selasa 11-02-2020,03:52 WIB
Editor : ME
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Selasa 06-10-2026,17:42 WIB
Krisis Air di Pati, Pemprov Jateng Gandeng Undip Siapkan Solusi Desalinasi Air Payau
Selasa 06-10-2026,17:30 WIB
Bekali Keterampilan Kerja Siswa, SMAN 5 Magelang Luncurkan Program SMA Mantap
Selasa 06-10-2026,18:30 WIB
Seluruh TPS Pilkades Serentak Magelang 2026 Dianggap Rawan Keamanan
Selasa 06-10-2026,17:00 WIB
Cari Wakil Provinsi, 73 Pelajar SMP Ikuti Lomba Speech dan Storytelling di Kota Magelang
Rabu 07-10-2026,09:27 WIB
Perbukitan Menoreh Purworejo Bakal Jadi Arena BiosfeRun 2026
Terkini
Rabu 07-10-2026,16:30 WIB
Belikopi Magersari Magelang Tawarkan Ropang Mulai Rp7 Ribu, Ada Promo Combo
Rabu 07-10-2026,16:17 WIB
Pengedar Sabu di Kalikajar Wonosobo Dibekuk, 4 Paket Barang Bukti Disita
Rabu 07-10-2026,16:06 WIB
Sukses Terapkan Program Sekolah Berintegritas, Pemprov Jateng Raih Penghargaan dari KPK
Rabu 07-10-2026,15:30 WIB
Kekeringan Meluas hingga Lereng Gunung, 19.717 Warga Kabupaten Magelang Krisis Air
Rabu 07-10-2026,14:57 WIB