
"Setiap hari buat di rumah, daerah Ndaleman, Pakis, tapi jualnya cuma saat Wage saja," ujarnya.
Saat berdagang, Bekti biasanya berangkat bersama kedua rekannya yang juga berprofesi sebagai pande besi.
"Memang daerah sini (Sanggrahan) dan Ndaleman banyak yang kerjanya pande besi, sudah turun-temurun dari buyut, tidak tahu sejak kapannya yang pasti sudah lebih dari 40 tahun," tutur dia.
BACA JUGA:Pemkab Magelang Distribusikan 30.000 Paket Sembako Murah untuk Masyarakat Jelang Lebaran
Puas melihat-lihat aneka senjata dan alat-alat besi, pengunjung bisa melihat deretan pedagang tembakau kiloan yang menjajakan dagangannya.
Tembakau yang dijual di Pasar Sanggrahan dijajar di atas plastik dalam bentuk gulungan dengan berbagai warna dan aroma.
Tembakau-tembakau itu didatangkan dari berbagai daerah seperti Magelang, Temanggung dan Madura.
BACA JUGA:Wujud Apresiasi Warga Sawangan Magelang Usai TMMD, Beri Parcel Sayur ke TNI
Biasanya, para pedagang menjual tembakau sepaket dengan papir (kertas untuk menggulung tembakau), cengkeh dan kemenyan.
Bagi sebagian orang, mungkin tradisi membubuhkan kemenyan pada rokok lintingan memang terlihat aneh dan berbau mistis.
Tak heran, sepanjang jalan yang menjual tembakau, akan tercium aroma kemenyan dan rokok yang menyengat.