Prabowo Dibentuk Proses, Bukan Kekuasaan

Prabowo Dibentuk Proses, Bukan Kekuasaan

Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Azis Subekti-IST-MAGELANG EKSPRES

Ketika kemudian Prabowo Subianto memilih jalan militer, keputusan itu terasa masuk akal.

Militer menawarkan kejelasan dalam hidup yang sejak awal penuh perubahan: peran jelas, disiplin tegas, dan tanggung jawab nyata.

Kepemimpinan di sana tidak dibentuk oleh kata-kata, tetapi oleh tindakan dan akibatnya.

BACA JUGA:Akal Budi sebagai Fondasi Bangsa: Dari Pelajaran Jepang ke Ikhtiar Indonesia

Kesalahan tidak bersifat abstrak; ia langsung terasa seperti dalam lingkungan seperti ini, keberanian mengambil keputusan menjadi kebutuhan, bukan pilihan.

Namun kepemimpinan tidak berhenti pada ketegasan. Saat bergerak ke ruang sipil, tantangannya berubah.

Perintah tidak lagi cukup. Kepemimpinan harus dibangun lewat kepercayaan, dialog, dan kesediaan mendengar.

Ketegasan tetap diperlukan, tetapi harus berjalan bersama kesabaran.

BACA JUGA:Jangan Terlewat, BRI Buka Rekrutmen BFLP Specialist 2026 Siapkan Talenta Muda Profesional Masa Depan

Disiplin bertemu keberagaman, dan keputusan menuntut legitimasi, bukan sekadar kepatuhan.

Negara, pada akhirnya, berdiri di antara dua kebutuhan: ketertiban dan kebebasan. Tanpa ketertiban, ia rapuh.

Tanpa kebebasan, ia kehilangan jiwa. Kepemimpinan negara menuntut keseimbangan—ketegasan yang tidak membungkam dan kebijaksanaan yang tidak ragu mengambil sikap.

Keseimbangan ini tidak lahir tiba-tiba; ia tumbuh dari perjalanan panjang menghadapi tekanan dan tanggung jawab yang berbeda-beda.

BACA JUGA:Tanggap Bencana Longsor Cisarua Kabupaten Bandung, BRI Peduli Salurkan Bantuan Bagi Warga Terdampak

Ketika kekuasaan akhirnya datang, ia tidak mengubah manusia. Ia hanya memperjelas watak yang sudah ada.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: magelang ekspres