Tenaga Medis Jangan Kecewa

Tenaga Medis Jangan Kecewa

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA - Tagar #IndonesiaTerserah sempat menjadi trending topic di media sosial. Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 sekaligus Doni Monardo berharap tenaga medis tidak kecewa. Seperti diketahui, pada Jumat (15/5) ramai di media sosial mengenai foto tenaga medis dengan tulisan \"Indonesia Terserah\". Sehingga tagar #IndonesiaTerserah pun menjadi trending. Hal ini dipicu gejala pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) karena banyaknya massa yang berkerumun di sejumlah tempat. Padahal kerumunan itu dapat memicu penyebaran COVID-19. Contoh kerumunan massa misalnya penumpukan penumpang sempat terjadi di Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis, 14 Mei 2020. Pada hari itu terjadi peningkatan penumpang hingga 5.000 orang, atau tertinggi sejak 7 Mei 2020 saat mulai dibukanya kembali penerbangan. Padahal sehari sebelumnya jumlah penumpang hanya 4.300 orang dalam sehari. Contoh lain adalah masyarakat memadati lapak pedagang kali lima (PKL) di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Ahad (17/5) meski PSBB berlaku di wilayah DKI Jakarta. \"Sejak awal kita ke depankan ujung tombak adalah masyarakat. Kalau masyarakat terpapar sakit, dirawat di rumah sakit, apalagi dalam jumlah yang banyak dan tempat perawatan penuh, maka yang sangat repot adalah dokter dan perawat. Jadi bahasan yang selalu kami kemukakan jangan biarkan dokter-dokter kelelahan,\" tegas Doni di Jakarta, Senin (18/5). Gugus Tugas mencatat hingga 6 Mei 2020, terdapat 55 tenaga medis yang terdiri atas dokter dan perawat telah meninggal selama pandemi COVID-19. \"Jangan sampai tenaga medis kehabisan waktu dan tenaga bahkan mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan bangsa Indonesia. Mereka wajib dilindungi. Karena jumlah dokter paling sedikit, kurang dari 200 ribu orang. Sedangkan dokter paru berjumlah 1.976 orang. Artinya 1 dokter paru melayani 245 ribu warga Indonesia,\" papar mantan Danjen Kopassus ini. Artinya, bila seorang dokter meninggal, maka hal itu merupakan kerugian besar bagi bangsa Indonesia. \"Kita harus saling mengingatkan, mencegah, menghindari jangan sampai sakit. Segala ketentuan berhubungan dengan protokol kesehatan, UU No 6 tahun 2018 tentang Kedaruratan Kesehatan hendaknya dipatuhi,\" tuturnya. Apalagi, lanjut Doni, sangat mungkin COVID-19 tidak akan hilang dalam waktu singkat. \"Vaksin yang katanya segera ditemukan sampai saat ini belum ada kepastian. Artinya dalam waktu sangat lama kita harus tetap hidup di bawah ancaman COVID-19. Pesan Presiden, masyarakat harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi kehidupan. Hidup berdampingan dengan COVID bukan berarti membuat kita lengah. Bukan berarti menyerah. Tetapi justru tingkatkan kewaspadaan kita agar tidak terpapar COVID-19,\" urainya. COVID-19 sudah menyebar di seluruh provinsi di Indonesia, paling banyak di DKI Jakarta (6.010), disusul Jawa Timur (2.152), Jawa Barat (1.652), Jawa Tengah (1.157), Sulawesi Selatan (951), Banten (650), Sumatera Selatan (521), Sumatera Barat (408), Papua (383), Kalimantan Selatan (372), Nusa Tenggara Barat (371), Bali (348), dan Kalimantan Timur (254). Hal senada disampaikan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang P.S. Brodjonegoro. Dia mendorong para peneliti dan akademisi melakukan riset dan inovasi terkait dengan skema kehidupan normal baru. Yakni masyarakat dapat hidup berdampingan dengan virus COVID-19. \"Terkait COVID-19 ini, karena obat maupun vaksin belum ada, maka sebaiknya penelitiannya sudah bicara yang lebih ke depan. Jadi tidak melihat dampak PSBB lagi. Tetapi melihat bagaimana nanti bentuk new normal. Misalkan sesuai daerah bapak atau ibu, di Jawa Timur sama new normal di Sumatera Utara,\" kata Bambang di Jakarta, Senin (18/5). Ia menuturkan adanya beberapa penyakit sampai saat ini belum ditemukan vaksin. Yakni demam berdarah dan HIV. Namun masyarakat tetap bisa hidup bersama dengan penyakit itu. New normal merupakan kondisi di mana masyarakat bisa hidup beradaptasi dengan keadaan saat ini. Namu tetap menjalankan protokol COVID-19. Meski tidak seketat seperti yang terjadi dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tujuannya masyarakat bisa kembali beraktivitas secara normal tetapi dengan kebiasaan baru. Dia menuturkan protokol-protokol harus dibuat detail untuk setiap sektor. Sehingga mendukung penerapan kebiasaan baru di kehidupan normal baru. Misalnya menjaga jarak saat duduk di dalam pesawat atau harus memakai alat pelindung diri saat duduk di dalam pesawat. \"Karena bagaimanapun lagi selama vaksin atau obat belum ditemukan mau tidak mau jaga jarak itu tetap akan ada dalam berbagai bentuk,\" tuturnya. Hingga saat ini, masih ada dana tersisa Rp29,4 miliar dari total anggaran Rp90 miliar untuk program konsorsium riset dan inovasi untuk percepatan penanganan COVID-19 di Tanah Air. Dana itu akan dikucurkan untuk riset dan inovasi percepatan penanganan COVID-19 tahap II. Untuk itu, Bambang berharap, proposal yang masuk tahap II juga mencakup strategi untuk membangun kehidupan normal baru itu. Pendaftaran proposal riset dan inovasi paling lambat 2 Juni 2020. Sejauh ini, 134 proposal telah didanai dengan dana Rp60,6 miliar dari anggaran yang dialokasikan untuk program konsorsium riset dan inovasi COVID-19.(rh/fin)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: