Menjaga Air, Menjaga Nurani: Catatan dari Danau Menjer
Azis Subekti, Anggota DPR RI Komisi II, Dapil Jawa Tengah VI-IST-MAGELANG EKSPRES
MAGELANGEKSPRES.ID - Ada lanskap yang tak pernah meminta apa-apa selain dijaga sehingga Danau Menjer adalah salah satunya.
Di lingkar pegunungan Dieng, danau ini selama puluhan tahun bekerja sunyi: menahan air hujan, menenangkan aliran, dan memberi kehidupan bagi warga di sekitarnya.
Namun hari-hari ini, ketenangan itu retak—bukan oleh alam, melainkan oleh keputusan manusia.
BACA JUGA:Pita Merah Tekankan Pentingnya Edukasi Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Wonosobo
Gambar-gambar yang viral dari Desa Maron, Garung, Wonosobo, Jawa Tengah bukan sekadar soal pemandangan yang berubah melainkan ia adalah penanda arah.
Bangunan-bangunan komersial tumbuh di kawasan tangkapan air—wilayah yang semestinya dilindungi—menggerus sempadan, memotong infiltrasi, dan mempercepat sedimentasi.
Air yang dahulu jernih kini mudah keruh selepas hujan; lereng yang dulu menyerap kini mengalirkan lumpur.
Kecurigaan warga tentang pembiaran tak lahir dari prasangka, melainkan dari pengalaman.
BACA JUGA:DLH Kabupaten Wonosobo Klaim Volume Sampah Turun 10–15 Ton per Hari
Ketika garis larangan menjadi ruang tawar, ketika izin tak jelas namun bangunan tetap berdiri, kepercayaan publik pun terkikis.
Padahal tata ruang adalah janji antargenerasi: ia memastikan pembangunan hari ini tidak menagih bencana esok hari.
Kita perlu jujur pada diri sendiri, pariwisata yang dikejar cepat tanpa prasyarat ekologis hanya memindahkan biaya ke masa depan.
Danau vulkanik seperti Menjer memiliki daya dukung terbatas.
BACA JUGA:Mengukir Prestasi dan Menekuni Hobi, Amira Nugraheni Syahida Raih Emas Line Dance di Jawa Tengah
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: magelang ekspres