Panen Pahala Waktu Maghrib di Bulan Ramadhan

Sabtu 01-03-2025,11:07 WIB
Reporter : Abu Hammam
Editor : Suroso

3. Membaca Dzikir Petang

Waktunya dzikir petang dari matahari tenggelam hingga pertengahan malam (menurut pendapat yang paling kuat).

Di antara manfaat dari dzikir petang disebutkan dalam hadits berikut ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, semalam aku menemukan seekor kalajengking yang menyengatku.” Beliau bersabda,

أَمَّا لَوْ قُلْتَ حِيْنَ أَمْسَيْتَ: أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ تَضُرَّكَ

“Seandainya engkau mengucapkan ini saat sore hari, ‘AUDZU BI KALIMAATILLAHIT TAAMMAATI MIN SYARRI MAA KHOLAQ’ (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan yang telah Dia ciptakan, pasti kalajengking itu tidak akan membahayakanmu.” (HR. Muslim, no. 2709)

Ketika berbuka puasa sebenarnya terdapat berbagai amalan yang membawa kebaikan dan keberkahan. Namun seringkali kita melalaikannya, lebih disibukkan dengan urusan perut.

4. Makan Hidangan Berbuka Puasa Bersama Keluarga  dengan Adab-adab yang Disyariatkan

Ketika berbuka puasa sebenarnya terdapat berbagai amalan yang membawa kebaikan dan keberkahan. Namun seringkali kita melalaikannya, lebih disibukkan dengan urusan perut.

Jangan lupa bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya, memuji makanan dan tidak mencela makanan.

Kita diperintahkan untuk memuji makanan walaupun sederhana sekali makanan tersebut.

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada keluarganya tentang lauk. Mereka lantas menjawab bahwa tidak ada di sisi mereka selain cuka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamlalu bersabda,

نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ

“Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka.” (HR. Muslim, no. 2052).

BACA JUGA:Panen Pahala Pagi Hari di Bulan Ramadhan

Di antara wujud bersyukur pada makanan adalah tidak mencela makanan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

مَا عَابَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – طَعَامًا قَطُّ ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

“Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela suatu makanan sedikit pun. Seandainya beliau menyukainya, beliau menyantapnya. Jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya (tidak memakannya).” (HR. Bukhari, no. 5409 dan Muslim, no. 2064).

Kategori :