Tradisi Rebo Wekasan dalam Tinjauan Islam

Rabu 20-08-2025,14:31 WIB
Reporter : Abu Hammam
Editor : Suroso

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyaroh (beranggapan sial), tidak ada hammah (burung/hewan yang memberikan mudharat), dan tidak ada kesialan di bulan Shafar.”_ (HR. Bukhari 5757 dan Muslim 2220)

Hadits ini menunjukan bahwa segala bentuk yang diyakini oleh orang-orang jahiliyah terdahulu dengan menyakini bahwa benda atau waktu tertentu dapat memberikan mudharat dan musibah, lalu mereka melakukan sebuah ritual tertentu untuk menolak bala tersebut, maka ini semua telah dihapus oleh syariat Islam.

Dalam hadits ini, penafian yang disebutkan bukan penafian tidak adanya hal tersebut (karena pada hakikatnya bisa saja terjadi), akan tetapi meniadakan sebabnya, karena yang menjadikan sesuatu itu terjadi hanyalah Allah. Apabila sebab tersebut sesuatu yang diketahui, maka sebab tersebut benar, dan apabila sebab tersebut sesuatu yang tidak ada sangkut-paut nya dengan kejadian, maka sebab tersebut bathil.

BACA JUGA:Hukum Hadiah Undian Jalan Sehat yang Dibolehkan dalam Islam

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan amalan agar terhindar dari marabahaya. Rasulullah selalu merutinkan membaca doa di pagi hari dan petang agar terhindar dari marabahaya, sebagaimana dalam sebuah hadits berikut ini :

عَنْ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ، قَالَ:سَمِعْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ، وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ: بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَيَضُرَّهُ شَيْءٌ“ وَكَانَ أَبَانُ، قَدْ أَصَابَهُ طَرَفُ فَالِجٍ، فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَنْظُرُ إِلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ أَبَانُ: مَا تَنْظُرُ؟ أَمَا إِنَّ الحَدِيثَ كَمَا حَدَّثْتُكَ، وَلَكِنِّي لَمْ أَقُلْهُ يَوْمَئِذٍ لِيُمْضِيَ اللَّهُ عَلَيَّ قَدَرَهُ

Dari Aban ibnu Utsman ia berkata, “Saya mendengar Ustman bin Affan berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Tidak ada seorang hamba yang mengucapkan pada pagi hari dan sore harinya: (Bismillahilladzii laa yadhurru ma’asmihii syai-un fil ardhi walaa fissamaa-i wahuwas samii’ul ‘aliim), sebanyak 3 kali, maka tidak ada yang memudharatkannya.’ Waktu itu Aban (perawi hadis) terkena ujung dari sesuatu benda, maka seseorang melihat kepadanya, Aban berkata, ‘Apa yang kamu lihat?’ Adapun hadits tersebut seperti yang saya sampaikan, akan tetapi pada hari ini saya tidak mengucapkannya, agar Allah mejadikan segala sesuatu terjadi karena takdirnya’.” (HR. Tirmdzi 3388 dan Ibnu Majah 3869, hadis ini hasan)

Lajnah Daimah ketika ditanya tentang tradis Rebo Wekasan, menjelaskan bahwa amalan seperti itu tidak dijumpai dalilnya dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Tidak diketahui bahwa ada salah satu ulama masa silam dan generasi setelahnya yang mengamalkan ritual ini. Jelas ini adalah perbuatan bid’ah.

Dan terdapat hadits shahih dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang membuat hal yang baru dalam agama ini, yang bukan bagian dari agama maka dia tertolak.” (HR. Bukhari, Muslim dan lainnya)

Siapa yang beranggapan ritual semacam ini pernah dilakukan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam atau pernah dilakukan sahabat radhiyallahu‘anhum, maka dia telah melakukan kedustaan atas nama beliau.

BACA JUGA:Cara Mengendalikan Marah yang Diajarkan Dalam Islam

Sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hendaknya kita selalu bertawakkal kepada Allah, meyakini segala sesuatu yang terjadi atas kehendak Allah.

Dialah yang memberikan kita sebuah musibah dan Dialah yang membuka jalan keluarnya, tidak ada dalam perkara ghaib yang terjadi di muka bumi ini yang diketahui oleh sesorang kecuali melalui Firman-Nya atau hadis-hadis Rasulullah. Maka hendaknya kita menyerahkan semua perkara tersebut sesuai bimbingan utusan-Nya, agar hidup kita bisa mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. (*)

Kategori :