Tetapi swasembada hanya akan kokoh jika ia dibangun di atas fondasi keragaman, bukan homogenisasi.
Ketahanan pangan nasional tidak mungkin berdiri hanya di atas satu tanaman, satu wilayah, atau satu pendekatan.
Di sinilah kearifan lokal menemukan relevansinya kembali.
BACA JUGA:Desa Dawung Bagikan Bibit Sayuran untuk Tingkatkan Ketahanan Pangan Warga
Ketika pangan diproduksi dan dikonsumsi sesuai dengan kondisi setempat, risiko krisis menjadi lebih tersebar dan lebih mudah dikelola.
Alam tidak dipaksa bekerja melampaui kemampuannya, dan masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar.
Ini bukan romantisme masa lalu, melainkan strategi rasional menghadapi perubahan iklim dan ketidakpastian global.
Pengalaman China memperlihatkan bahwa negara dapat hadir tanpa mematikan pengetahuan lokal.
Negara menjaga kerangka besarnya—ekosistem, tata kelola, dan keberlanjutan—sementara masyarakat mengelola detailnya sesuai konteks wilayah.
Bambu tumbuh di tempat yang tepat; pangan lain tumbuh di tempat lain.
Tidak ada ambisi untuk menyeragamkan semuanya.
Indonesia, dengan segala kelebihannya, berada di jalur yang sama jika mau bersabar.
BACA JUGA:Penyebab Banjir dan Longsor Gunung Slamet Terungkap, Mulai Curah Hujan Ekstrem hingga Karakter Tanah
Setelah menekan ketergantungan impor dan menegaskan swasembada, tantangan berikutnya adalah memastikan kesinambungan.
Bukan dengan memperluas produksi secara seragam, tetapi dengan memperdalam pemahaman terhadap potensi tiap daerah.