Seragam Training dan Pendidikan di Tengah Jurang Sosial

Senin 16-02-2026,18:26 WIB
Reporter : Heni Agusningtyas & Azis S
Editor : Arief Setyoko

Hari sekolah yang panjang menuntut kesiapan fisik dan mental sekaligus.

Senam pagi dan olahraga bukan selingan, melainkan bagian dari ritme belajar.

Murid harus siap berpikir dan bergerak dalam satu tarikan napas.

BACA JUGA:d’JeLiPat SMK Negeri 3 Magelang Curi Perhatian di Launching Jogja Fashion Week 2026

Pakaian yang membatasi gerak dianggap tidak sejalan dengan tujuan itu.

Indonesia tentu tidak berada dalam konteks yang sama kita memiliki keragaman budaya, sejarah, dan tradisi sekolah yang khas.

Namun hari ini, pendidikan kita dihadapkan pada persoalan yang semakin nyata: jurang sosial yang masuk hingga ke ruang kelas.

Perbedaan sekolah negeri dan swasta, kota dan desa, pusat dan pinggiran, tak lagi hanya soal kualitas fasilitas, tetapi juga soal simbol dan citra sosial.

BACA JUGA:Membangun Personal Branding Melalui LinkedIn, Seberapa Pentingnya Bagi Dunia Kerja?

Di banyak sekolah, terutama di perkotaan, anak-anak sejak dini belajar membaca kelas sosial—bukan dari buku pelajaran, melainkan dari penampilan.

Seragam yang seharusnya menyamakan justru kerap menjadi medium pembeda: kualitas kain, atribut tambahan, hingga perlengkapan penunjang.

Sekolah tanpa sadar menjadi ruang pertama tempat anak berlatih membandingkan diri dan merasa “kurang” atau “lebih” dari yang lain.

Dalam konteks ketimpangan yang masih kuat—akses pendidikan yang belum merata, biaya sekolah yang membebani, dan mobilitas sosial yang tersendat—praktik simbolik seperti ini tidak bisa dianggap sepele.

BACA JUGA:Ketika AI Mulai Mengatur Hidup Kita: Di Mana Batas Etika Pengambilan Keputusan?

Ketika kesetaraan hanya diajarkan sebagai konsep, sementara pengalaman sehari-hari anak justru memproduksi jarak sosial, pendidikan kehilangan fungsi etiknya.

Ini bukan soal meniru China atau mengganti seragam dengan training olahraga.

Kategori :