Curhat Pelaku Seni, Banyak Agenda Kesenian Gagal

Curhat Pelaku Seni, Banyak Agenda Kesenian Gagal

MAGELANGEKSPRES.COM,MAGELANG – New normal akibat pandemi covid-19 membuat berubahnya berbagai aktivitas. Salah satunya kegiatan bidang kesenian pada Padepokan Seni Gubuk Kebon, Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Di sanggar tersebut, sebelum adanya corona kegiatan berjalan normal. Tidak sedikit agenda-agenda yang disusun. Sayangnya, gagal di saat virus tersebut melanda negeri ini. “Sebelum pandemi ada aktivitas, malah sebulan sekali ada pertunjukan baik teater, tari, atau musik. Kalau saya pribadi tetap produktif untuk saat ini, seperti membuat video pendek. Jika ada kawan yang rindu sanggar, diadakan diskusi-diskusi di sini,” kata Pemilik Sanggar Gubuk Kebon, Tri Setyo Nugroho (39), saat ditemui di sanggar, Senin (3/8/2020). Kegiatan normal di sanggar yang saat ini diisi sembilan komunitas berubah menjadi online. Mekanisme kegiatannya yaitu dengan mendatangkan komunitas-komunitas tersebut untuk memeriahkan acara Panggung Rindu. Pertunjukan tersebut direkam dan diunggah melalui Youtube dan Facebook. “Kegiatan new normal seperti itu sudah berjalan selama tiga minggu dan penontonnya mencapai seribu lebih. Bahkan saat hari H penonton siaran langsun sebanyak 650-an,” ucap pria yang disapa Gepeng ini. Dampak dari adanya pandemi yang paling terasa bagi penggiat seni yaitu dari segi ekonomi. Banyak event yang tertunda bahkan gagal dikarenakan situasi ini. Walaupun tetap dapat berjalan normal seperti biasa, namun pertimbangan masyarakat sekitar lebih diperhatikan. Baca Juga Polres Kota Ungkap 8 Kasus Pencurian, Amankan 11 Tesangka “Ada beberapa projek yang batal semua. Secara finansial sebagian dari kami terputus pendapatannya. Kalau segi emosional, kita mengalami kegelisahan karena aktivitas kami terhenti. Banyak event besar yang gagal terhitung sampai akhir tahun, saya sudah tidak ada harapan untuk menggarapnya lagi, seperti Grebek Getuk,” ucap Gepeng. Gepeng menjelaskan dibalik kegelisahan tersebut terdapat program dari Kemendikbud maupun Pemerintah Provinsi Jateng berupa Pentas di Rumah. Para seniman memberi karya pendek yan nantinya mendapat reward berupa uang Rp500 ribu hingga Rp1 juta. Hal tersebut menjadi suntikan bagi pekerja seni yang bagai cacing kepanasan karena pandemi ini. “Bisa jadi kegiatan tersebut menjadi daring, tapi pertanyaannya jika seseorang mengadakan pertunjukan, mereka kan inginnya menggelar untuk memeriahkan acara, jika daring tentu saja tidak ada yang naggap. Lalu pendapatannya dari mana?” gelisahnya. Gepeng menjelaskan jika menggunakan program pemerintah tersebut, maka hanya akan merugikan seniman. Kalau dilihat dari segi profesional. Banyak seniman yang kreatif, menggunakan media sosial untuk peluang. Namun kekurangannya akan menimbulkan kejenuhan bagi penonton. Ia berharap nantinya ada cara bijak dari pemerintah dengan protokol tertentu agar kesenian tetap berjalan. Kegelisahan lain nampak dirasakan penari, Muhammad Abi Al Ash (20). Ia berhenti menjadi penari dikarenakan pandemi covid. Dampak yang ia rasakan dari segi finansial. Putri dan kelompoknya kehilangan job sehingga berkurangnya uang saku untuk sekolah. “Sejak awal covid saya tidak menari karena tidak ada paggung dan tempat berekspresi. Saya biasa menari pada acara pemerintah. Kegiatan yang batal yaitu tari kolosal di Monas dan acara rutinan di Mantyasih Magelang,” tutur Abi. Sejalan dengan itu, Kurnia Maharani atau yang biasa dipanggil Ronde (19) mengungkapkan kerinduanya di dunia kesenian. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Magelang ini aktif berkegiatan di dunia teater. “Kerugian yang paling dirasakan ya karena event pentas yang tertunda dan bahkan digagalkan. Latihan yang terhalang karena takut dari warga sekitar yang melarang adanya kerumunan juga,” ungkapnya. Maharani mengungkapkan kesedihanya dikarenakan tidak bisa melakukan latihan, apalai tidak jelas sampai kapanya. Ada beberapa event yang ditunda atau bahkan digagalkan seperti panggung teater, pentas keliling, dan lainnya. “Kami berharap pemerintah dapat mengatifasi para pekerja seni dengan memberi kelonggaran. Seperti, memberi kelonggaran berproses walaupun menetapkan protokol kesehatan,” akunya. Sementara itu, Nanda Yunia Pratiwi (21), mahasiswa Universitas Muhammadiyah Magelang yang aktif di dunia tari mengungkapkan kerinduanya untuk pentas. Selama pandemi ini, banyak kegiatan yang gagal dilaksanakan. “Ya kerugian yang paling dirasakan sih mungkin di job ya. Jadi tidak ada job (menari). Apalagi untuk izin sendiri tidak pernah di ACC,” ungkap Nanda dihubungi via Whatsapp. Kerugian lagi yang dirasakan oleh Nanda diantaranya material. Banyak juga gamelan yang berkarat karena jarang dipakai. Setidaknya hingga sebelum bulan Ramadan terdapat lima job yang terpaksa dibatalkan. “Pemerintah dapat memperhatikan para pekerja seni. Terutama dari segi mata pencahararian,” harapnya.  (pkl3/pkl5)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: