Asal Usul Monyet Berekor Panjang di Kebun Raya Gunung Tidar Magelang

Asal Usul Monyet Berekor Panjang di Kebun Raya Gunung Tidar Magelang

Monyet berekor panjang merupakan salah satu kekayaan yang terdapat di Kebun Raya Gunung Tidar Magelang yang terus dilestarikan. Foto: Wiwid arif--

MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.DISWAY.ID - Perkembangan monyet berekor panjang di Kebun Raya Gunung Tidar Magelang yang tak terkendali ternyata bukan masalah baru. Jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun. Saat ini sudah mencapai ratusan ekor, bahkan ada yang menyebut mencapai seribu ekor lebih. 

Keberadaan monyet-monyet yang saat ini menghiasi kawasan Gunung Tidar itu awalnya dianggap aneh oleh warga sekitar. Sebab, bukit itu sempat gundul dan baru dilakukan penghijauan kembali pada era 1990-an. Namun, berdasarkan cerita dari warga sekitar, asal usulnya bermula dari kegiatan survival taruna Akademi Militer. Tadinya kera itu hanya berjumlah enam ekor. Selain kera, kegiatan survival juga mengirimkan enam ekor ular dan enam ekor  monyet tapi yang bisa dijumpai hanya monyet-monyet. Sampai saat ini, kijang di Gunung Tidar hampir tidak dapat ditemui. Demikian halnya dengan ular-ular. Hanya ratusan ekor monyet saja yang biasa terlihat di pintu masuk Kebun Raya Gunung Tidar. Keberadaan mereka seringkali merepotkan pengunjung karena merebut makanan yang dibawa ketika kelaparan. Bahkan, pada musim kemarau saat persediaan makanan di Gunung Tidar menipis, kawanan monyet itu sampai turun ke rumah warga hingga Pasar Gotong Royong untuk mencari makan.

Namun saat ini, ratusan tanaman buah-buahan sudah ditanami di Gunung Tidar. Ini dirasa penting untuk persediaan makanan monyet yang populasinya semakin banyak. 

Pengelola Kebun Raya Gunung Tidar tetap memberi makanan dan membiarkan mereka hidup. Walaupun termasuk hewan tidak dilindungi tapi tetap tidak boleh dibunuh.

Beberapa tahun terakhir banyak pihak dan relawan yang berinisiatif menanam pohon buah-buahan di gunung setinggi 503 meter dari permukaan laut (mdpl) ini. Aksi dilakukan agar monyet-monyet tersebut tidak kekurangan makanan sehingga tidak membahayakan warga dan wisatawan.

Pemkot Magelang juga pernah menggandeng ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta untuk mendapatkan alternatif penanganan perkembangbiakan hewan primata itu. Kerja sama itu digagas oleh Pemkot bersama Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 2018 lalu. Kala itu, akademisi meneliti monyet ekor panjang (macaca fascicularis) dengan metode sampling. Ketua Tim Peneliti, Wisnu Nurcahyo saat itu menyimpulkan ada 198 ekor monyet. Padahal, secara teori tingkat kepadatan ideal adalah satu ekor monyet per satu hektar luas wilayah. Sedangkan Gunung Tidar hanya memiliki luas 70 hektar. (wid)

Sumber: magelang ekspres