Dibalik Keramahan dan Senyuman Pedagang Pasar Rejowinangun Kota Magelang

Dibalik Keramahan dan Senyuman Pedagang Pasar Rejowinangun Kota Magelang

PASAR REJOWINANGUN. Salah satu sudut di kawasan perdagangan Pasar Rejowinangun yang terlihat sepi.(foto : larasati putri/magelang ekspres)--Magelangekspres.com

KOTA MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.DISWAY.ID – Aroma khas yang tak asing selalu menyeruak kedalam indra penciuman. Hiruk pikuk dan gemuruh percakapan seakan-akan menjadi bentuk manifestasi transaksi perdagangan. Kios yang tidak pernah redup diisi dengan berbagai macam barang adalah bukti tempat mengais rezeki yang dijagakan penjual di kawasan Pasar Rejowinangun Kota Magelang.

Pasar terbesar di eks-Karesidenan Kedu itu sempat terbakar pada tahun 2008 silam. Kini pasar telah dibangun kembali, dengan konsep modern, dan ramah bagi pedagang maupun pembeli.

Sayangnya, kemegahan Pasar Rejowinangun versi modern belum mampu mengalahkan keramaian Pasar Rejowinangun versi sebelum musibah kebakaran terjadi. Pengunjung semakin sedikit, pemandangan transaksi jual beli yang terus menurun, menjadi keluh kesah pedagang selama ini.

Seseorang kakek pun menatap senyum tajam ke arah kami. Sempat kami datangi karena di usia senjanya, dia begitu semangat menjajakan dagangan reparasi kacamata. Kiosnya itu sudah ada sejak tahun 1990. Dia menjadi yang paling senior dibanding kios kanan kirinya.

“Saya berjualan sejak tahun 1990. Tadinya (sebelum terbakar) tidak di sini. Sekarang sudah pindah di sini,” kata kakek belasan cucu itu saat wartawan mendatangi lapaknya, Rabu, 23 November 2022.

Dengan penuh senyum sumringah, pemilik tempat usaha bernomor A 532 T, bercerita detail setelah kepindahannya ke lantai 2 Pasar Rejowinangun. Dia mengaku jika omset penjualannya tidak seramai saat ia berjualan di lantai satu pasar.

“Paling-paling sekarang untung ribuan saja, pelanggan juga sudah tidak punya lagi,” tuturnya sembari tersenyum kecil dengan tangan kanannya yang masih memegang sebuah kacamata.

Jafar adalah sosok yang pantang menyerah dan menginspirasi. Ia pernah mengalami himpitan ekonomi keluarga. Bahkan kala itu, dia tak sanggup membeli lemari baru untuk memajangkan seluruh koleksi kacamatanya.

Jafar berkata jasa reparasi satu kacamatanya tidaklah mahal, ini cukup ramah dikantong dibandingkan garapan toko-toko besar.

“Untuk ganti tangkai kacamata yang biasa cukup Rp15.000 sedangkan yang bagus Rp25.000,” katanya.

Keterbatasan fisik akibat usianya kini membuat Jafar sulit untuk bekerja. Pintanya, pengelola dan pemerintah dapat memperhatikan keresahan-keresahan pedagang kecil yang sebatas mencukupi kebutuhan primernya saja tidak mampu.

Salah satu pemilik toko di selasar bawah Pasar Rejowinangun, Arif Setyawan (36) berujar, Pasar Rejowinangun memiliki arti yang besar baginya.

“Kehidupan saya cuman di pasar, semenjak pasar ini jadi, saya sudah dagang baju-baju remaja,” kata Arif.

Berawal dari bisnis kakaknya yang menurun ke Arif, ia merasa bahwa kios miliknya jarang ditilik pembeli karena macetnya kegiatan rutin dari pemerintah daerah.

Sumber: magelangekspres.com