Berusia 29 Tahun, Paguyuban Kebo Bodo Perluas Jangkauan Kepedulian

Berusia 29 Tahun, Paguyuban Kebo Bodo Perluas Jangkauan Kepedulian

POTONG TUMPENG. Prosesi potong tumpeng dari ketua untuk anggota termuda mewarnai tasyakuran 29 tahun Paguyuban Kebo Bodo di kedai Uncle B’s Kitchen Kelurahan Kledung Karangdalem, kemarin malam.(foto : Eko Sutopo/Purworejo Ekspres)--Magelangekspres.com

PURWOREJO, MAGELANGEKSPRES.DISWAY.ID - Aksi kepedulian sosial mewarnai peringatan HUT ke-29 Paguyuban Kebo Bodo di Kelurahan Kledung Karangdalem Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo.

Kepedulian yang semula hanya difokuskan bagi internal anggota, terus diperluas merambah ke warga sekitar.

Nama Kebo Bodo memang terdengar kuno dan terkesan kurang intelek. Diksi uniknya tak jarang membuat khalayak tertawa. Namun, kiprah dan eksistensinya tak bisa disepelekan.

Sejak terbentuk pada 23 November 1993 silam, Kebo Bodo konsisten menjalankan visi mulia, yakni merawat keberlanjutan budaya dan adat istiadat masyarakat.

Sejumlah misi terus dijalankan meski sederhana. Antara lain dengan menjaga semangat gotong-royong serta melestarikan tradisi lokal penggunaan bahawa Jawa.

Pada 23 November 2022 kemarin, paguyuban berlambang kerbau ini tepat berusia 29 tahun. Puluhan warga yang menjadi anggota punya cara tersendiri dalam merayakannya.
Beberapa hari sebelumnya, mereka melakukan aksi sosial berupa bersih-bersih jalan yang menghubungkan antara Kelurahan Kledung Karangdalem dengan Kledung Kradenan.

Aksi itu sekaligus menjadi bentuk kepedulian terhadap para pelajar dan petani yang kerap melintasi jalur tersebut.

Aksi Kebo Bodo itu mendapat perhatian dari Budi Susilo, Kepala Desa Pamriyan Kecamatan Pituruh yang memiliki rumah dan kedai bernama Uncle B’s Kitchen di RT 02 RW 02 Kledung Karangdalem.

Secara khusus, ia menyediakan kedainya sebagai tempat tasyakuran hari jadi Kebo Bodo pada Rabu 23 November 2022 malam.
Kendati dikemas sederhana dan singkat, acara berlangsung khidmat dihadiri antara lain Plt Lurah Kledung Karangdalem, Taufik Hidayah SE MAP, bersama Kasi Pemberdayaan, Bhabinkamtibmas Aipda Hendri Setiawan, dan Bhabinsa Sertu Nuriswanta.

Prosesi utama berupa potong tumpeng dan doa bersama digelar penuh khitmad diikuti seluruh anggota, serta Ketua RW dan RT setempat.
Dalam kesempatan itu juga diisi simbolik penyaluran santunan kepada anak yatim dan paket sembako untuk duafa.

Santunan berasal dari infak sukarela anggota yang dikumpulkan setiap pertemuan rutin bulanan. Sementara bingkisan berupa sembako merupakan donasi dari Polres Purworejo, Alfamart, dan warga sekitar.

“Dalam beberapa tahun terakhir, tradisi santunan anak yatim selalu menyertai acara tasyakuran. Namun, penerima santunan dan bantuan tidak kita undang ke acara, bantuan langsung kita salurkan ke rumahnya,” kata Ketua Kebo Bodo, Retno Waluyo.

Menurut Retno, Kebo Bodo merupakan organisiasi di lingkup kelurahan. Awal mula berdirinya dilatarbelakangi oleh keinginan warga untuk melestarikan budaya gotong-royong. Beberapa diantaranya yakni membantu anggota saat memiliki hajatan.

Sistem bantuan yang diterapkan dalam paguyuban tidak jauh berbeda dengan arisan zaman dulu. Saat ada anggota yang hendak hajatan dan membutuhkan bantuan berupa keperluan hajatan, secara gotong-royong anggota lain mencukupinya.

Sumber: magelangekspres.com